…..Fisika Konsep Arus Listrik…..

PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES  DALAM PEMBELAJARAN IPA FISIKA KONSEP ARUS LISTRIK KELAS III SEMESTER 5 DI MTsN TENGGARONG

Oleh : Ardinansyah, S. Pd*)

*) Ardinansyah  adalah  guru matapelajaran IPA-Fisika di MTsN Tenggarong

ABSTRAK :

Ardinansyah, Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran IPA-Fisika Konsep Arus Listrik Kelas III Semester 5 di MTsN Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun Pembelajaran 2002/2003. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA Fisika serta faktor-faktor apa saja yang menunjang/menghambat dalam pendekatan keterampilan proses. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III MTsN Tenggarong, dari kelas III A, III B dan III C, dan sebagai sampel diambil dari salah satu kelas secara acak yakni kelas III C dengan jumlah  40 siswa. Teknik analisis data ini mencari nilai rata-rata dan persentase dari jumlah nilai yang menunjukkan keterampilan proses siswa. Keterampilan proses siswa dalam melakukan pengamatan siswa dengan rata-rata 7,6 termasuk kategori baik. Keterampilan proses siswa dalam melakukan interpretasi  dengan rata-rata 5,3 termasuk kategori kurang. Keterampilan proses siswa dalam melakukan memprediksi  dengan rata-rata 8,5 termasuk kategori baik sekali. Keterampilan proses siswa dalam mengendalikan variabel dengan rata-rata   6,8 termasuk kategori baik. Keterampilan proses siswa dalam melakukan  rencana penelitian  dengan rata-rata 6,7 termasuk kategori baik. Keterampilan proses siswa dalam membuat kesimpulan dengan rata-rata 9,5 termasuk kategori baik sekali. Keterampilan proses siswa dalam mengaplikasikan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat  dengan rata-rata 7,6 termasuk kategori baik. Keterampilan proses siswa dalam mengkomunikasikan ide  dengan rata-rata 5,3 termasuk kategori kurang. Prestasi belajar yang juga merupakan perwujudan dari Keterampilan proses siswa dalam belajar ternyata 85% dari jumlah siswa dinyatakan tuntas dalam belajar dengan perolehan prosentase ketercapaian belajar mereka diatas 65%. Sedang 15% dari jumlah siswa dinyatakan tidak tuntas dalam belajar dengan perolehan prosentase ketercapaian belajar mereka di bawah 65%. Faktor-faktor yang menunjang pelaksanaan pendekatan keterampilan proses adalah guru dan siswa yang dapat bekerjasama, laboratorium dan alat praktik, kemauan guru, antusiame siswa. Faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan pendekatan keterampilan proses adalah kurangnya pengalaman melakukan pendekatan keterampilan proses, laboratorium dan alat praktik yang kurang menunjang, rendahnya kreativitas guru dan siswa karena terbiasa dengan pembelajaran pola duduk, dengar, catat, hafal. I. PENDAHULUANA.   Latar BelakangSiswa sebagai subyek dalam proses belajar mengajar ternyata memiliki keunikan yang berbeda-beda antara siswa satu dengan siswa lainnya. Ada siswa yang cepat dalam belajar karena kecerdasannya sehingga dia dapat menyelesaikan kegiatan belajar mengajar lebih cepat dari yang diperkirakan, ada siswa yang lambat dalam belajar dimana siswa golongan  ini sering ketinggalan pelajaran dan  memerlukan waktu lebih lama dari waktu yang diperkirakan untuk siswa normal, ada siswa yang kreatif yang menunjukkan kreatifitas dalam kegiatan-kegiatan tertentu dan selalu ingin memecahkan persoalan-persoalan, ada siswa yang berprestasi kurang dimana sebenarnya siswa ini mempunyai taraf intelegensi tergolong tinggi akan tetapi prestasi belajarnya rendah, dan ada pula siswa yang gagal dalam belajar sehingga tidak selesai dalam studinya di sekolah.Untuk itu guru berupaya memahami karakteristik siswa-siswanya dan dapat melakukan pendekatan dalam belajar mengajar sebagai upaya mengoptimalisasikan hasil belajar, sebab tanpa pendekatan ini hasil belajar tidak akan diperoleh dengan sebaik-baiknya. Selain itu tidak kalah pentingnya pada inti kegiatan belajar mengajar, yaitu proses belajar mengajar, yang melibatkan anak didik dan pendidik. Sekarang proses belajar mengajar tidak lagi dengan cara belajar Duduk, Dengar, Catat dan Hafal (DDCH) tetapi pengembangan kearah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Dalam CBSA strategi belajar mengajar menekankan pada keaktifan siswa baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosional sehingga tercapai hasil belajar yang optimal, yakni : (1) assimilasi dan akomodasi dalam pencapaian pengetahuan, (2) perbuatan serta pengalaman langsung dalam pembentukan keterampilan, (3) penghayatan serta internalisasai nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000:87).Ada beberapa pendekatan dalam pembelajaran IPA. Pendekatan faktual, konsep dan keterampilan. Pendekatan faktual menekankan pada penemuaan fakta-fakta dalam IPA. Setelah proses pembelajaran siswa dapat dapat menggambarkan fakta yang sesungguhnya tanpa melalui proses bagaimana fakta-fakta itu diperoleh, contoh hasil pendekatan faktual adalah : air membeku pada suhu 00, Merkurius adalah planet yang terdekat dengan matahari. Biasanya metode dalam pengajaran untuk pendekatan ini adalah membaca, mengulang, mendemonstrasikan dan tes. Ternyata  pendekatan faktual ini menuntut siswa untuk menghafal pelajaran dimana siswa tidak sepenuhnya memahami sepenuhnya pelajaran itu. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan konseptual. Konsep berarti suatu ide yang menghubungkan beberapa fakta. Dalam pendekatan konseptual siswa tidak hanya sekedar menghafal pelajaran, sebab siswa dalam pencapaian dan pembentukan konsep dihadapkan pada benda-benda konkrit untuk diotak-atik, eksploirasi fakta dan ide-ide secara mental. Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan keterampilan proses, dimana siswa diajak untuk benar-benar melakukan pengamatan, pengukuran, pengidentifikasian dan pengendalian, percobaan, dan lain-lain seperti yang dilakukan oleh seorang ilmuwan. Keterampilan proses IPA merupakan pendekatan yang ditempuh para ilmuwan dalam usaha memecahkan misteri-misteri alam.Pendekatan keterampilan proses  adalah pembelajaran yang dianjurkan didalam mengajar IPA, selain menggunakan pendekatan konsep, guru diminta untuk menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan-keterampilan proses IPA dikembangkan bersama-sama dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip IPA. Inti pengembangan pendekatan keterampilan proses adalah aspek pengetahuan (kognitif), sikap (affektif), dan keterampilan (psikomotor),  selain itu pengembangan keterampilan proses dituntut pengembangan kreatifitas siswa. Kelebihan dari pendekatan keterampilan proses adalah anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Keterampilan proses IPA yang dikembangkan pada siswa setingkat SLTP merupakan modifikasi dari keterampilan proses IPA yang dimiliki para ilmuwan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan materi yang diajarkan. Perlunya pengembangan pendekatan belajar mengajar keterampilan proses dalam pengajaran IPA ini diarahkan pada pertumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik atau siswa agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru yang bermanfaat baik berupa fakta, konsep maupun pengembangan sikap dan nilai. Sebagai konsekwensi dari pendekatan keterampilan proses ini, maka siswa berperan selaku subyek dalam belajar. Ia bukan hanya menerima informasi, tetapi sebaliknya pencari informasi. Maka dari itu siswa harus aktif , terampil dan mampu mengelola perolehannya serta hasil belajar dan pengalamannya. Dengan demikian pendekatan keterampilan proses ini memiliki ciri-ciri umum yaitu : a) mendambakan aktivitas siswa untuk memperoleh informasi sebagai sumber (misalnya dari observasi, eksperimen dan sebagainya) ; b) guru tidak dominan melainkan bertindak selaku organisator dan fasilitator.B. Rumusan Masalah1.   Bagaimanakah penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA-FISIKA konsep  arus listrik kelas III Semester 5 di MTsN Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun Pembelajaran 2002/2003 ?.2.   Faktor-faktor apa saja yang menunjang dalam pendekatan keterampilan proses?3.   Faktor-faktor apa saja yang menghambat dalam pendekatan keterampilan  proses ?. II. TINJAUAN PUSTAKAA.     Hakikat Pendekatan Keterampilan ProsesMengajar pada hakekatnya merupakan serangkaian peristiwa yang dirancang oleh guru dalam memberikan dorongan kepada siswa belajar. Belajar  bersifat individual dan sebagai pendorong setiap siswa memperoleh pengaruh dari luar dalam proses belajar dengan kadar yang berbeda-beda, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Oleh karena itu hasil belajarpun berbeda-beda. Meskipun pengaruh pengajaran yang diterima bersifat individual tetapi guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan secara kelompok (klasikal), namun guru tetap dituntut bagaimana siswa dapat belajar secara optimal sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing siswa.Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka dalam pendidikan sudah saatnya meninggalkan cara belajar yang tradisional. Begitu pula cara mengajar yang konvensional. Proses belajar DDCH (Duduk, Dengar, Catat, dan Hafal) dinilai tidak efektif dan efisien untuk membina siswa menjadi manusia kreatif kelak.Belajar yang optimal dapat dicapai bila siswa aktif dibawah bimbingan guru yang aktif pula. Cara dalam mengaktifkan siswa belajar salah satunya adalah konsep CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif – Student Active Learning).Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) pada hakekatnya merupakan suatu konsep dalam mengembangkan keaktifan proses belajar mengajar baik dilakukan oleh guru maupun siswa . Jadi dalam CBSA tampak jelas adanya guru aktif mengajar disatu pihak, dan siswa aktif belajar di lain pihak. Konsep ini bersumber dari teori kurikulum yang berpusat pada anak (Child Centered Curriculum). Penerapannya berlandaskan kepada teori belajar yang menekankan  pentingnya belajar melalui proses mengalami untuk memperoleh pemahaman atau insight (teori gestalt). (Muhamad Ali, 1983 :68).Dengan perkataan lain, keaktifan dalam CBSA mengarah keaktifan mental, meskipun untuk mencapai ini dalam banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam berbagai hal atau bentuk keaktifan fisik. (Raka Joni, 1980 : 20).Salah satu pendekatan pengajaran yang mempunyai kadar CBSA tinggi dalam pengajaran IPA adalah pendekatan keterampilan proses, pendekatan ini merupakan penyempurnaan dari pendekatan faktual dan pendekatan konsep. Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu siswa. Pendekatan keterampilan proses sebagai pendekatan yang menekankan pada pertumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru yang bermanfaat baik berupa fakta, konsep, maupun pengembangan sikap dan nilai. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 77-78).Sejalan dengan asumsi di atas, maka belajar-mengajar dipandang sebagai suatu proses yang harus dialami oleh setiap peserta didik atau siswa. Belajar mengajar tidak hanya menekankan kepada apa yang dipelajari, tetapi juga menekankan bagaimana ia harus belajar. Para guru dapat menumbuhkan dan mengembangkan potensi, kemampuan dan keterampilan-keterampilan peserta didik sesuai dengan taraf perkembangan pemikirannya. Pendekatan Proses (pendekatan keterampilan proses) ini senada dengan pendekatan inkuari, karena memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu : a) mendambakan aktivitas siswa untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber (misalnya dari observasi, eksperimen dan sebagainya); b) guru tidak dominan melainkan selaku organisator dan fasilitator. Pendekatan ini disebut pendekatan proses karena memiliki ciri-ciri khusus yang berkenaan dengan proses pengolahan informasi  yaitu 1) ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai produk semata, tetapi dan terutama seagai proses; 2) anak didik dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan memproses informasi dalam pikirannya sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Misalnya terampil dalam observasi termasuk pengukuran (panjang, lebar, waktu, ruang, berat) keterampilan mengklasifikasi termasuk membedakannya berdasarkan berbagai aspek (bentuk, warna, berat dan sebagainya). Siswa juga  dilatih untuk membuat hipotesis dan mengujinya melalui eksperimen. (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:38).Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri   fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses belajar mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan pendekatan proses. (Conny Semiawan dkk, 1985 :18). Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan keterampilan proses adalah kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pengembangan keterampilan  peserta didik dalam memproses informasi sehingga ditemukan  hal-hal yang baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, sikap dan nilai.Sehubungan dengan kerangka berpikir dalam pendekatan keterampilan proses bahwa  pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran IPA (Fisika, biologi) itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah yang juga harus dikembangkan oleh peserta didik sebagai pengalaman yang bermakna yang menjadi bekal perkembangan diri selanjutnya. Tujuan belajar dari pendekatan keterampilan proses  adalah memperoleh pengetahuan suatu cara untuk melatih kemampuan-kemampuan intelektualnya dan merangsanag keingintahuan serta dapat memotivasi kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan yang baru diperolehnya. (Lambang Subagiyo, 2002:1).Conny Semiawan dkk, merinci alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari :1.      Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.Untuk mengatasi hal tersebut, siswa diberi bekal keterampilan proses yang dapat mereka gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tanpa tergantung dari guru.2.      Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata.      Tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi menggiring anak untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri.3.      Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data baru yang mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi, teori baru yang prinsipnya mengandung kebenaran yang relatif. Jika kita hendak menanamkan sikap ilmiah pada diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Dengan perkataan lain anak perlu dibina berpikir dan bertindak kreatif. 4.      Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak anak didik. Konsep disatu pihak serta sikap dan nilai di lain pihak harus disatu kaitkan. (Conny Semiawan dkk, 1985 : 15-16) Pengembangan pendekatan keterampilan proses merupakan salah satu upaya yang penting untuk memperoleh keberhasilan belajar yang optimal. Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai dan dihayati oleh siswa bila siswa sendiri mengalami peristiwa belajar tersebut. Selain itu, tujuan pendekatan proses ini adalah :1.      Memberikan motivasi belajar kepada siswa karena dalam keterampilan proses ini siswa dipacu untuk senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam belajar.2.      Untuk lebih memperdalam konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari siswa karena hakikatnya  siswa sendirilah yang mencari fakta dan menemukan konsep tersebut3.      Untuk mengembangkan pengetahuan teori dengan kenyataan hidup dimasyarakat sehingga antara teori dengan kenyataan hidup akan serasi.4.      Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi kenyataan hidup di dalam masyarakat sebab siswa telah dilatih untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah5.      Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggung jawab dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi berbagai problem kehidupan. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 78).Selanjutnya Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati mengemukakan kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses yang antara lain :1.      Pengamatan, yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan indera2.      Menggolongkan (mengklasifikasikan), yaitu keterampilan menggolongkan benda, kenyataan, konsep, nilai atau kepentingan tertentu. Untuk membuat penggolongan perlu ditinjau persamaan dan perbedaan antara benda, kenyataan, konsep sebagai dasar penggolongan3.      Menafsirkan (menginterpretasikan), yaitu keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda, kenyataan, peristiwa, konsep dan informasi yang telah dikumpulkan melalui pengamatan, penghitungan, penelitian atau eksperimen.4.      Meramalkan, yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecenderungan, pola tertentu, hubungan antar data, atau informasi. Misalnya, berdasarkan pengalaman tentang keadaan cuaca sebelumnya, siswa dapat meramalkan keadaan cuaca yang akan terjadi.5.      Menerapkan (aplikasi) yaitu menggunakan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori dan keterampilan. Melalui penerapan hasil belajar dapat dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan atau dihayati.6.      Merencanakan penelitian, yaitu keterampilan yang amat penting karena menentukan berhasil tidaknya melakukan penelitian. Keterampilan ini perlu dilatih karena selama ini pada umumnya kurang diperhatikan dan kurang terbina.7.      Mengkomunikasikan, yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 79).Sementara itu Hendro Darmodjo dan Jenny RE. Kaligis merinci keterampilan-keterampilan proses dalam pendidikan IPA  itu meliputi :1.      Keterampilan mengobservasi, yang meliputi kemampuan untuk dapat “membedakan”, “menghitung” dan “mengukur” termasuk mengukur  suhu, panjang, luas, berat dan waktu.2.      Keterampilan mengklasifikasi, yang meliputi menggolong-golongkan atas dasar aspek-aspek tertentu, serta kombinasi antara menggolongkan dengan mengurutkan.3.      Keterampilan menginterpretasi, termasuk menginterpretasi data, grafik, maupun mencari pola hubungan yang terdapat dalam pengolahan data.4.      Keterampilan memprediksi, termasuk membuat ramalan atas kecenderungan yang terdapat dalam pengolahan data5.      Keterampilan membuat hipotesis, meliputi kemampuan berpikir deduktif dengan menggunakan konsep-konsep, teori-teori maupun hukum-hukum IPA yang telah dikenal.6.      Keterampilan mengendalikan variabel, yaitu upaya mengisolasi variabel yang tidak diteliti sehingga adanya perbedaan pada hasil eksperimen adalah dari variabel yang diteliti.7.      Keterampilan merencanakan dan melakukan penelitian, eksperimen yang meliputi penetapan masalah, membuat hipotesis, menguji hipotesis8.      Keterampilan menyimpulkan atau inferensi, yaitu kemampuan menarik kesimpulan dari pengolahan data9.      Keterampilan menerapkan atau aplikasi, atau menggunakan konsep atau hasil penelitian ke dalam perikehidupan dalam masyarakat10.  Keterampilan mengkomunikasikan, yaitu kemampuan siswa untuk dapat mengkomunikasikan pengetahuannya, hasil pengamatan, maupun penelitiannya kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis. (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:52). B. Pembelajaran  IPA-FisikaKata “IPA” merupakan singkatan kata “Ilmu Pengetahuan Alam” yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “Natural Science” atau “Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau sangkut paut dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam ini, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.(Srini M. Iskandar, 1997:2).Mata Pelajaran Fisika di SLTP merupakan perluasan dan pendalaman IPA di Sekolah Dasar (SD) dan sebagai dasar untuk mempelajari perilaku benda dan energi serta keterkaitan antara konsep dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Pembelajaran IPA di SLTP menurut kurikulum 1994 edisi revisi 1999 bertujuan agar siswa dapat:1.      Meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan kebanggaan nasional, dan kebesaran serta kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa,2.      Memahami konsep-konsep IPA dan saling keterkaitannya,3.      Mengembangkan daya penalaran untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,4.      Mengembangkan keterampilan proses untuk memperoleh konsep-konsep IPA dan menumbuhkan nilai dan sikap ilmiah,5.      Menerapkan konsep dan prinsip IPA untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia,6.      Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah. Mata pelajaran IPA berfungsi untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan alam, mengembangkan keterampilan, wawasan, dan kesadaran teknologi yang berkaitan dengan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari dan prasyarat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah serta peningkatan kesadaran terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Mata pelajaran Fisika SLTP, konsep dan sub konsep dipelajari melalui penelitian sederhana, percobaan dan sejumlah kegiatan praktis dengan fokus pada pengembangan keterampilan proses.Mengenai apa itu fisika dapat diambil definisi yang telah ditulis oleh Herbert Druxes, et al, (1986:3) fisika adalah :1.      Pelajaran tentang kejadian dalam alam, yang menungkinkan penelitian dengan percobaan, pengukuran apa yang didapat, penyajian secara matematis, dan berdasarkan peraturan-peraturan umum (Brockhaus 1972);2.      Suatu uraian tertutup tentang semua kejadian fisikalis yang berdasarkan beberapa hukum dasar (Brand/Dahmen 1977);3.      Wu Li, kata dalam bahasa Cina untuk fisika dengan lima arti: struktur energi organik – jalan saya – omong kosong – berpegang pada gambaran tertentu – penerangan (Zukov 1981);4.      Apa yang dikerjakan oleh para ahli fisika (beberapa buku pelajaran baru, misalnya Orear 1973);5.      Suatu teori yang menerangkan gejala-gejala alam sesederhana-sederhananya dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan-kenyataannya. Persyaratan dasar untuk pemecahan persoalannya ialah mengamati gejala-gejala tersebut (Gerthsen 1958);6.      Teori peramalan alternatif-alternatif yang secara empiris (dengan percobaan) dapat dibeda-bedakan (Wizsacher 1979).Selanjutnya Herbert Druxes et al,  mengemukakan bahwa fisika meng uraikan dan menganalisa struktur dan pristiwa-peristiwa alam, teknik, dan dunia sekeliling kita. Dalam pada itu itu akan ditemukan atauran-aturan atau hukum-hukum dalam alam, yang dapat menerangkan gejala-gejalanya berdasarkan struktur logika  antara sebab dan akibat.  Dalam pada itu eksperimen atau percobaan merupakan alat bantu yang sangat penting. Struktur ilmiah fisika, dalam pada itu, menyusun atau membentuk  pengertian , hubungan antara pengertian, prinsip, dan hukum yang berlaku secara umum. Jadi secara keseluruhan, fisika dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum alam dan kejadian-kejadian alam dengan gambaran menurut pemikiran manusia. (Herbert Druxes, et al, 1986: 12).Masalah pelajaran fisika di sekolah-sekolah pendidikan umum oleh Herbert Druxes, et al (1986:27) diuraikan secara singkat : a)      Fisika “tidak disukai” yaitu masih banyak dipertanyakan kegunaan hasil fisika bagi manusia, anggapan fisika sebagai ilmu pengalaman terurai secara murni sehingga hasil dan pernyataannya juga dianggap tidak mempunyai arti dalam gambaran dunia, b)      Fisika itu berat, yaitu adanya pengertian dan model yang hampir tak ada hubungannya dengan dunia kita yang dapat diindera dan diamati. Sebagai contoh, untuk menjelaskan dalam menjelaskan gejala relativitas, orang berbicara tentang pelbagai partikel elementer, yang terdiri atas kuark dan gluon, bahan ini termasuk ke dalam “keluarga-keluarga”  tertentu dan mempunyai sifat-sifat yang “khas” dan membuatnya abstrak, tak tampak. c)      Pelajaran fisika tidak “aktual” yaitu pelajaran fisika tidak memuat rencana yang peristiwa-peristiwa fisika yang sedang terjadi . Misalnya dalam surat kabar terdapat berita tentang penyediaan energi dan kekurangannya, tentang energi inti dan tenaga atom, tentang radioaktivitas dan pencemaran CO2 dalam atmosfer., Pelajaran fisika baru aktual bila siswa menyadari bahwa mereka dengan yang dipelajari itu dapat mulai  dengan sesuatu dalam pekerjaan dan waktu senggang,d)       Pelajaran fisika itu eksperimental yaitu pelajaran fisika oleh guru harus dibarengi dengan percobaan di depan kelas dan dilaboratorium oleh siswa. Dengan demikian terdapat pemberatan cukup besar bagi pengajar/guru. C. Materi Pelajaran Arus ListrikPada siswa kelas III untuk mata pelajaran IPA-fisika di semester 5 diperkenalkan dengan materi rangkaian listrik, tujuan pelajaran ini siswa mampu menyusun rangkaian listrik tertutup tentang adanya arus listrik pada rangkaian itu dan mampu berhipotesis setelah mengenal ciri-ciri beberapa komponen listrik (GBPP 1994 Fisika edisi 1999). Berdasarkan GBPP 1994 Fisika edisi 1999, bisa penulis kutip pokok-pokok bahasan dan sub pokok bahasan sebagai berikut :1.1.    Arus listrik mengalir dalam rangkaian tertutup yang didalamnya terdapat sumber listrik.

1.1.1. Arus listrik dapat diukur

a).   Mengenal konsep kuat arus melalui pengukuran arus yang mengalir melalui rangkaian tertutup dengan satu baterai dan satu lampu atau dua baterai dan satu lampu, dan lain-lain.

b).  Menyusun beberapa rangkaian listrik tertutup dengan satu baterai, satu bola lampu dan satu kabel. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi penyebab lampu menyala pada rangkaian itu.

c).  Membahas, sakelar dan sekering sederhana

        1.1.2. Beda potensial atau tegangan listrik timbul antara dua titik pada peng -

                  hantar bila dihubungkan dengan sumber tegangan.           a). Untuk menimbulkan perbedaan potensial diantara titik di dalam pengahantar diperlukan sumber arus listrik, misalnya elemen volta, baterai , atau accu.

b). Mengukur beda potensial berbagai sumber listrik serta mengukur tegangan di antara ujung suatu alat listrik. Misalnya bola lampu dengan voltmeter.

Selanjutnya untuk materi pelajaran tentang arus listrik dan rangkian listrik penulis kutipkan buku tulisan Antoni Idel dan Rudy Haryono, (2000:194-199) sebagai berikut :

1. Arus listrik.

Muatan listrik yang mengalir melalui konduktor (penghantar listrik) disebut arus listrik. Pada penghantar jenis logam, elektron-elektron bergerak dari potensial rendah ke potensial tinggi.Kuat arus listrik dinyatakan dalam Ampere. Sedangkan untuk mengetahui seberapa kuat arus listrik itu mengalir melalui penghantar, dapat kita gunakan amperemeter (Amp meter). Misalnya kita ingin mengetahui seberapa besar ampere sebuah baterai kering. Maka kita harus mengukurnya menggunakan alat tersebut. Caranya ialah dengan menggunakan lampu pijar. Hasil pengkuran kekuatan arus listrik (ampere) dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
 

  ……………………….  (2.1)

 Dengan :

 I        = kuat arus listrik (Ampere)

 Q     = muatan yang mengalir ( Coulomb)

 t        = waktu (Secon)

 2.          Hambatan

Hambatan listrik adalah bilangan yang menyatakan hasil bagi antara beda potensial ujung-ujung penghantar dan kuar arus yang melalui penghantar tersebut. Secara matematis ditulis :

 atau  ………….(2.2)

Dengan :

R = hambatan listrik (ohm)

V = beda potensial atau tegangan (Volt)I = kuat arus listrik (ampere)

Hambatan suatu kawat penghantar (konduktor) dipengaruhi oleh jenis kawat penghantar, panjang kawat penghantar, besar atau luas kawat penghantar, suhu kawat penghantar

Menurut Halliday dan Resnick sesuatu yang dihubungkan dengan hambatan adalah resitivitas (resitivity) r, yang merupakan karakteristik (sifat) dari suatu bahan dan bukan merupakan karakteristik  (sifat) dari bahan contoh khas (particular specimen) dari suatu bahan; resitivitas tersebut untuk bahan-bahan isotropik, di definisikan dari :

……………………….. (2.3)

Dengan :

r       = hambatan jenis

E     = kuat
medan

J       = rapat arus

Resitivitas tembaga adalah 1,7 x 10-8 W. Sejumlah kecil sifat-sifat fisis dapat diukur pada jangkauan nilai-nilai seperti itu.

Seringkali kita lebih suka berbicara mengenai konduktivitas (conductivity) (s) dari suatu bahan daripada berbicara resitivitasnya. Konduktivitas adalah kebalikan dari resitivitas, yang dihubungkan oleh :


………………………(2.4)

Dengan :

s      = konduktivitas

Satuan-satuan SI dari s adalah (W.m)-1

Tinjauan  sebuah  penghantar silinder, yang luas penampangnya A dan panjangnya    l, yang mengangkut sebuah arus I yang tetap. Marilah kita kita pakaikan sebuah perbedaan potensial V diantara ujung-ujung penghantar tersebut. Jika penampang-penampang silinder pada setiap ujung adalah merupakan permukaan-permukaan ekipotensial, maka
medan listrik (E) dan rapat arus (r) akan konstan untuk semua titik di dalam silinder dan akan mempunyai nilai-nilai

   dan    …………….. (2.5)

Dengan :

V     = beda potensial

l        = panjang kawat

j        = rapat arusi        = kuat arus

A      = luas penampang kawat

Maka kita dapat menuliskan resitivitas r tersebut sebagai :

 …………………….. (2.6)

Tetapi V/I adalah hambatan R yang  dinyatakan  sebagai   (Halliday dan Resnick , 1977:49):

 ………………………… (2.7)

Dengan : R = hambatan kawat (W)L = panjang kawat penghantar  (m)

A = luas penampang kawat penghantar  (m2)

ρ = hambatan jenis kawat (W.m)

Dari rumus tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin panjang suatu penghantar semakin besar hambatannya. Semakin luas (besar) ukuran penampangnya, semakin kecil hambatannya. Besar kecilnya hambatan juga dipengaruhi oleh jenis logam penghantar.

 

3. Rangkaian Seri dan Paralel

Hambatan aliran muatan listrik disebut juga resistor. Dalam rangkaian listrik, resistor dapat disambung dengan dua cara, yaitu seri dan paralel. Tapi bisa juga disambung dengan cara campuran yaitu paralel dan  seri secara bersama-sama.a.   Rangkaian Seri

Rangkaian seri adalah rangkaian hambatan (resistor) yang disambungkan secara berturut-turut, sebagaimana gambar berikut :
Gambar 2.1: Sambungan/hubungan resistor secara seri
Untuk mengetahui hubungan antara besarnya masing-masing hambatan dengan hambatan penggantinya dalam rangkaian tersebut dapat menggunakan alat ukur voltmeter. Dinyatakan dengan rumus sebagai berikut : 
VAD       = VAB + VBC + VCD ………………………… (2.8)
 I.RAD   = I.R1 + I.R2 + I.R3 ………………………… (2.9)

                   Rs           =  R1  +  R2  +  R3  ………….……………… (2.10)

 Dengan :Rs = hambatan pengganti untuk susunan seri

R  = resistor

b.   Rangkaian Paralel

Bentuk rangkaian tersebut sebagai berikut ini : 

Gambar 2.2 : Rangkaian resistor secara parale

Dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

i =  i1  +  i2  + i3  ……………….. (2.11)

VAB = i1R1 = i2R2 = i3R3 ……….. (2.12)

 VAB  = i . Rp ……………………… (2.13) Dengan :  Rp = hambatan pengganti untuk susunan parallel Untuk mengetahui seberapa besar hambatan suatu arus listrik pada konduktor, dapat diketahui dengan menggunakan alat AVO meter (Ampere-Volt-Ohm meter).

 4. Hukum Kirchhoff

 Hukum I Kirchhoff menyatakan Jumlah arus yang menuju suatu titik bercabang sama dengan jumlah arus yang meninggalkan titik.

Hukum tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan sebagai berikut :

 S I1 = S I0  ……………………………(2.16)Dengan :SI1 = jumlah arus menuju titik cabangS I0 = jumlah arus meninggalkan titik cabang

Tegangan Gerak Listrik Elemen

 Gambar 2.3 : Rangkaian tegangan gerak listrik elemen

 Dengan :

 R = resistor (tahanan)

V = voltmeter

S = sakelar

E = baterai

A = amperemeter

Pada gambar di atas terdapat S (Saklar) yang bisa mengubah rangkaian menjadi terbuka (terputus aliran listriknya) dan tertutup (tersambung aliran listriknya).
Ketika saklar dalam keadaan terbuka berarti tidak ada arus listrik yang mengalir. Dalam keadaan ini tegangan kutub-kutub baterai lebih besar. Tegangan baterai ketika tidak memberikan arus, nilainya sama dengan tegangan gerak listrik (tgl) baterai. Ketiak saklar dalam keadaan tertutup berarti ada arus listrik yang mengalir. Dalam keadaan ini tegangan kutub-kutub baterai lebih kecil, disebut tergangan jepit yang selalu lebih kecil daripada tgl-nya.Jadi besarnya tgl= E volt, besarnya tegangan jepit = V volt, maka E selalu lebih besar dibandingkan dengan V. Sedangkan resistor (hambatan) di luar baterai disebut hambatan luar (R). Sedangkan hambatan di dalam baterai disebut hambatan dalam (r). Adanya hambatan dalam ini maka di dalam baterai akan kehilangan tegangan (U).

V = E – U……………………. (2.17)

Dengan :U  = tegangan yang hilang Menurut hukum Ohm : Besarnya tegangan yang hilang di dalam baterai adalah :

 

U = I x r ………………………. (2.18)

 Besarnya tegangan jepit adalah :

 

V = I x R………………………. (2.19)

 

                                   I x R = E – I x r atau E = I x R + I x r(2.20)

     E = I ( R + r)    …………………….  (2.21)

 

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Definisi Konsepsional

Yang dimaksud dengan penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA fisika  konsep arus listrik semester 5 di MTsN Tenggarong adalah adalah pendekatan dalam kegiatan belajar mengajar IPA-Fisika dengan penekanan pengembangan keterampilan peserta didik  pada konsep arus listrik sehingga siswa dapat menemukan fakta dan konsep.

 B. Definisi Operasional

Indikator dalam pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA-Fisika konsep  arus listrik adalah untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari pendekatan  keterampilan proses, yang meliputi hasil keterampilan proses dari konsep arus listrik  :

1.         Keterampilan proses siswa dalam melakukan observasi (pengamatan).

2.         Keterampilan proses siswa dalam mengiterpretasikan (menafsirkan)

3.         Keterampilan proses siswa dalam memprediksi (meramalkan).4.         Keterampilan proses siswa dalam mengendalikan variabel.5.         Keterampilan proses siswa dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian eksperimen.

6.         Keterampilan proses siswa  dalam melakukan inferensi (menyimpulkan ).

7.         Keterampilan proses siswa dalam mengaplikasikan (menerapkan).

8.         Keterampilan proses siswa dalam mengkomunikasikan hasil eksperimen percobaan).

C. Populasi dan Sampel

Dalam penelitian ini penulis meneliti semua siswa kelas III MTsN  Tenggarong Tahun Pembelajaran 2002/2003 pada semester  5 dengan jumlah siswa 125 orang terdiri dari tiga  ruang kelas yakni IIIA, IIIB, dan IIICSampel dalam penelitian ini diambil satu kelas dari populasi secara random (acak) yaitu kelas IIIC dengan jumlah siswa 40 orang.

D.  Tempat dan Waktu  Penelitian

Tempat  penelitian adalah pada MTsN  Tenggarong, Kabupaten  Kutai Kartanegara.Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2002 sampai dengan Nopember 2002.

E. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu memberi gambaran tentang   penerapan  keterampilan   proses   dalam  pembelajaran IPA-Fisika  di kelas III  Semester 5 di  MTsN Tenggarong  konsep arus listrik.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan : tes essay sebanyak 10 soal tes dengan waktu penyelesaian 90 menit untuk  mendapat data sejauh mana pemahaman dan keterampilan  siswa dalam belajar menggunakan pendekatan keterampilan proses. Dalam tes essay  diadakan observasi dengan dibantu  lembar pengamatan/penilaian prestasi belajar terhadap siswa  yang memuat kriteria-kriteria  keterampilan proses mereka dalam belajar yang ditunjukkan oleh nilai.

G. Teknik Analisis  Data

Dalam penelitian kualitatif ini penulis mengadakan analisis data secara kualitatif pula yaitu menggunakan persentase.

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar siswa yang diajar dengan pendekatan keterampilan proses pada mata pelajaran  IPA fisika konsep arus listrik digunakan rumus :

 …………………….. (3.1)                                                                      Kartini Kartono (1980:132)Dengan :S = Hasil skor yang diharapkanR = Jumlah skor yang diperoleh N = Skor tertinggi Adapun kriteria untuk menafsirkan  tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga mengetahui keberhasilan mengajar guru, kita gunakan acuan tingkat keberhasilan siswa menurut Suharsimi Arikunto (1993 : 249).

Angka 100 Angka 10 IKIP Huruf Keterangan
80 – 10066 – 7956 – 6540 – 5530 – 39 8,0 – 1,006,6 – 7,95,6 – 6,54,0 – 5,53,0 – 3,9 8,1 – 106,6 – 8,05,6 – 6,54,1 – 5,50   –  4,0 ABCDE Baik sekaliBaikCukupKurangGagal

Suharsimi Arikunto (1993:249)

Hasil ulangan tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan ketuntasan belajar baik perorangan maupun klasikal telah dicapai. Menurut Andi  Rasdiansyah (1996:110) dalam buku “Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Ilmu pengetahun Alam (IPA) pada Madrasah Tsanawiyah” dinyatakan seorang siswa disebut tuntas belajar bila telah memperoleh skor 65% atau nilai 6,5. Suatu kelas disebut tuntas belajar bila di kelas itu terdapat 85% siswa yang telah mencapai daya serap lebih dari 65%. Bila kurang dari itu perlu program perbaikan dan pengayaan.

Untuk mengetahui rata-rata keterampilan proses  siswa per indikator maupun prestasi belajar siswa maka dicari dengan rumus

……………………… (3.2)

                              Muhamad Ali (1982:179)

Dengan:

     = Mean

SfX    = Jumlah frekuensi skor

N        = Banyaknya data

Dengan demikian untuk mengetahui keterampilan proses siswa per indikator  maka dengan ketentuan tersebut diatas dimana skor tertinggi adalah 10, maka kita dapat juga menggunakan pedoman tersebut.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Sesuai dengan rumusan  dan masalah penelitian pada bab I, maka penelitian ini penulis lakukan pada semester
lima Tahun Pembelajaran 2002/2003 pada bulan Oktober  pada siswa kelas III MTsN Tenggarong. Data diperoleh dari hasil pemberian tes subyektif tentang konsep arus listrik.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan (MTsN Tenggarong) siswa kelas IIIC sebagai sampel penelitian ini sebelumnya telah diberi materi pelajaran IPA-Fisika menggunakan pendekatan keterampilan proses yaitu dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan metode belajar mengajar yang memberikan kesempatan siswa untuk berpartisipasi secara aktif terhadap peristiwa-peristiwa yang konkret baik fisik, mental, maupun emosional. Selanjutnya siswa di evaluasi menggunakan tes subyektif sebanyak 10 soal, materi evaluasi berupa tes  tetap mengacu pada pendekatan keterampilan proses (soal tes di lampiran 1).

sil tes tersebut dikoreksi untuk mendapatkan sejauh mana prestasi belajar setelah siswa memperoleh pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses . Untuk mengukur tidak ada jalan lain kecuali melakukan evaluasi dengan menyelesaikan soal-soal tersebut. Hasil evaluasi (tes ulangan) yang dikoreksi tersebut dipilah menjadi dua kriteria yakni : pertama , kriteria prestasi belajar siswa setelah memperoleh pendekatan  keterampilan proses  ditinjau secara khusus atau per indikator, dan kedua, kriteria prestasi belajar siswa ditinjau secara keseluruhan (umum).

Hasil ulangan tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan ketuntasan belajar baik perorangan maupun klasikal telah dicapai. Seorang siswa disebut tuntas belajar bila telah memperoleh skor 65% atau nilai 6,5. Suatu kelas disebut tuntas belajar bila di kelas itu terdapat 85% siswa yang telah mencapai daya serap lebih dari 65%. Bila kurang dari itu perlu program perbaikan dan pengayaan.

Berdasarkan data di atas maka terdapat 34 siswa yang telah memperoleh skor 65% ke atas. Sedang 6 siswa memperoleh skor dibawah 65%. Dengan demikian dapat dikatakan banyaknya siswa yang telah tuntas belajar adalah 34 siswa dengan persentase sebesar 85%, sedang 6 siswa tidak tuntas berlajar dengan persentase  15%.

C. Pembahasan

Evaluasi merupakan upaya untuk memperoleh informasi tentang perolehan belajar siswa secara menyeluruh, baik pengetahuan, sikap atau nilai maupun keterampilan proses . Selain itu, evaluasi berperan sebagai balikan maupun keputusan yang sangat berharga dalam menentukan strategi maupun memperbaiki proses belajar mengajar .

Penilaian atau evaluasi proses dapat diartikan sebagai penilaian terhadap proses belajar yang sedang berlangsung yang dilakukan oleh siswa atau kelompok siswa. Untuk menilai keterampilan siswa dapat digunakan lembaran tes yang dibuat berdasarkan kriteria keterampilan yang akan diamati dan membuat kriteria penilaian untuk masing-masing keterampilan.

Hasil pengamatan keterampilan proses yang dituangkan  dalam prestasi belajar siswa telah telah menunjukkan keberhasilan guru dalam mengajar menggunakan pendekatan keterampilan proses. Hal ini ditunjukkan dari 40 siswa yang diteliti ternyata 34 siswa (85%) dinyatakan tuntas dalam belajar, hal ini di buktikan dengan perolehan prosentase ketercapaian belajar mereka diatas 65%. Sedang 6 siswa (15%) dinyatakan tidak tuntas dalam belajar, hal ini dibuktikan dengan peroleh prosentase ketercapaian belajar mereka di bawah 65%.

Jika dilihat dari sudut materi soal yang meliputi 8 keterampilan proses tersebut terdiri : 1) keterampilan proses dalam melakukan pengamatan , 2) keterampilan proses dalam melakukan interpretasi, 3) keterampilan proses dalam melakukan prediksi, peramalan, 4) keterampilan proses dalam mengendalikan variabel, 5) keterampilan proses menentukan rencana penelitian, 6) keterampilan proses membuat kesimpulan, 7) keterampilan proses dalam mengaplikasikan, dan 8) keterampilan proses dalam mengkomunikasikan, dapat penulis jelaskan :

Pertama. Keterampilan proses siswa dalam melakukan pengamatan dengan rata-rata 7,6 termasuk kategori “baik”. Ini menunjukkan siswa  telah mampu melakukan percobaan untuk mengukur kuat arus, namun kelihatanya keterampilan melakukan uji coba perlu ditingkatkan hal ini bisa dilaksanakan dengan mengoptimalkan ruangan laboratorium yang ada dan peralatan praktik untuk melakukan percobaan dan pengamatan, karena selama ini hanya sedikit saja keterampilan siswa dalam melakukan observasi.  Kedua. Keterampilan proses siswa dalam melakukan interpretasi  dengan rata-rata 5,3 termasuk kategori “kurang’. Ini menunjukkan siswa  tidak mampu melakukan interpretasi (menafsirkan) data yang telah ada. Ini juga menunjukkan dasar matematika siswa yang rendah, sehingga siswa tidak mampu menghitung dengan benar, walaupun mereka tahu cara penyelesaian soal.  Ketiga. Keterampilan proses siswa dalam melakukan memprediksi  dengan rata-rata 8,5 termasuk kategori “baik sekali”. Ini menunjukkan siswa   mampu membuat perkiraan, ramalan atau prediksi. Namun hal ini juga disebabkan karena soal memprediksi ini termasuk mudah dan materinya mudah dipahami dan diingat oleh siswa. Keempat. Keterampilan proses siswa dalam mengendalikan variabel dengan rata-rata 6,8 termasuk kategori “baik”. Ini menunjukkan siswa  agak mampu menentukan variabel-variabel yang ada. Namun demikian juga menunjukkan dasar matematika siswa yang kurang, sehingga siswa kurang mampu menghitung dengan benar.  Kelima. Keterampilan proses siswa dalam melakukan  rencana penelitian  dengan rata-rata 6,7 termasuk kategori “baik”. Ini menunjukkan siswa mampu memahami tatacara membuat rencana penelitian, hanya untuk membuat rencana, menulis, menyusun kalimat dan berpikir sistematis membuat siswa perlu diperbaiki lebih lanjut.Keenam. Keterampilan proses siswa dalam membuat kesimpulan dengan rata-rata 9,5 termasuk kategori “baik sekali”. Ini menunjukkan siswa  telah mampu memahami pelajaran dan membuat kesimpulan dari kasus-kasus yang terjadi pada eksperimen.Ketujuh. Keterampilan proses siswa dalam mengaplikasikan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat  dengan rata-rata 7,6 termasuk kategori “baik”. Ini menunjukkan siswa   mampu menerapkan hasil pelajaran dalam kehidupan sehari karena  materi pelajaran kebetulan cocok dengan kenyataan sehari-hari. Seperti contoh tentang sekring tersebut, sangat mengena bagi siswa karena menyangkut listrik yang ada di rumahnya. Namun demikian ada beberapa yang kurang mampu mengaplikasikan terutama dari siswa yang tidak berminat pada teknik.   Kedelapan. Keterampilan proses siswa dalam mengkomunikasikan ide  dengan rata-rata 5,3 termasuk kategori “kurang”. Ini menunjukkan siswa  tidak mampu berkomunikasi secara lisan dengan baik, siswa ternyata juga lupa akan rumus hukum I Kirchhoff, dan siswa kurang mampu membuat kalimat yang benar dan terstruktur.  Dengan demikian dapat dibuat rangkuman rata-rata skor keterampilan proses untuk tiap-tiap indikator sebagai berikut :Tabel. Rata-rata  skor  keterampilan  proses kelas III mata pelajaran IPA-Fisika konsep arus listrik, semester 5 MTsN Tenggarong, Tahun Pembelajaran 2002/2003     

No.

Jenis Keterampilan Proses

Rata-rata skor

Kategori

1

Mengobservasi

7,6

Baik

2

Menginterpretasi

5,3

Kurang

3

Memprediksi

8,5

Baik sekali

4

Mengendalikan variabel

6,8

Baik

5

Merencanakan penelitian

6,7

Baik

6

Membuat kesimpulan

9,5

Baik sekali

7

Mengaplikasikan

7,6

Baik

8

Mengkomunikasikan

5,3

Kurang

Hasil penelitian memberikan nilai lebih yang bisa membuat siswa untuk meminati pelajaran ini yaitu siswa telah aktif dalam memecahkan memecahkan masalah, menguji coba dengan menggunakan eksperimen, melakukan analisis, membahas hasil dan mengkomunikasikan kepada guru, menarik kesimpulan. Pendek kata dalam pendekatan keterampilan proses ini guru tidak lagi dominan tetapi siswa telah aktif memperoleh informasi sebagi sumber.

Dari pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1) Perlu ada perbaikan secara klasikal untuk soal nomor 2 dan 8, dan yang ke 2) Perlu ada perbaikan secara individual  bagi siswa yang tidak tuntas, yaitu siswa nomor 7, 12, 14, 15, 21, dan 40.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat penulis identifikasi   faktor-faktor yang menunjang dalam pendekatan keterampilan proses, yaitu : 1) Guru dan siswa yang dapat saling bekerjasama untuk melaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses. Pendekatan ini membalik kebiasaan sehari-hari, di sini siswa yang aktif dan guru sebagai fasilitator, maka tanpa adanya kerjasama dari kedua belah pihak pelaksanaan keterampilan proses tidak jalan; 2) Laboratorium dan alat praktik  mutlak diperlukan dalam pendekatan keterampilan proses; 3) Kemauan guru dalam merencanakan pelajaran pendekatan keterampilan proses. Model pembelajaran ini memerlukan perencanaan yang baik, memerlukan persiapan praktik, menentukan keterampilan-keterampilan proses apa yang perlu dimiliki oleh siswa. Kebanyakan guru dalam mengajar tidak mau repot-repot, cukup persiapan seadanya saja yang penting tugasnya mengajar telah dilaksanaakan; 4) Antusiasme siswa lebih menonjol jika pelajaran IPA fisika menggunakan pendekatan keterampilan proses, sebab siswa tidak lagi mendengarkan penjelasan guru secara panjang lebar kemudian latihan soal tapi siswa mengalami sendiri dalam melakukan praktikum.

Disamping itu penulis mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat pendekatan keterampilan proses,yaitu : 1) Tidak terbiasa melakukan pendekatan keterampilan proses sehingga pelaksanaan menjadi tidak teratur dengan baik, kelihatan tersendat-sendat/kaku dan makan waktu; 2) Laboratorium dan alat praktik yang ada kualitas dan kuantitasnya tidak dapat menunjang secara optimal pendekatan keterampilan proses. Misalnya sekolah hanya punya 1 buah alat multitester yang dibuat secara bergantian; 3) Kreativitas guru masih kurang, sehingga guru tidak bisa menentukan langkah-langkah apa yang efektif agar siswa mendapatkan keterampilan proses; 4) Kebiasaan siswa memperoleh pengajaran yang konvensional dalam IPA, yaitu duduk, dengar, catat, hafal. Membuat kreativitas siswa menjadi berkurang, sehingga ketika pelaksanaan keterampilan proses berlangsung siswa merasa asing, bingung, dan tidak tahu apa yang akan dikerjakan.

V. KESIMPULAN DAN SARANA. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di MTsN Tenggarong tentang penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA fisika konsep arus listrik  kelas III semester 5 Tahun Pembelajaran 2002/2003. Maka  dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Prestasi belajar yang juga merupakan perwujudan dari keterampilan proses siswa dalam belajar pada siswa kelas IIIC menunjukkan 85% dinyatakan tuntas dalam belajar dan 15% siswa dinyatakan tidak tuntas belajar.
  2. Faktor-faktor yang menunjang pelaksanaan pendekatan keterampilan proses adalah guru dan siswa yang dapat bekerjasama, laboratorium dan alat praktik.
  3. Faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan pendekatan keterampilan proses adalah kurangnya pengalaman dalam melakukan pendekatan keterampilan proses, laboratorium dan alat praktik yang kurang menunjang, dan rendahnya kreativitas siswa .

B. Saran

Penulis merasa perlu memberikan saran yang berkaitan dengan penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA fisika konsep arus listrik  kelas III semester 5 di MTsN Tenggarong, Tahun Pembelajaran 2002/2003, sebagai berikut :

1.      Perlu ada perbaikan secara klasikal untuk soal nomor 2 (keterampilan siswa dalam interpretasi) dan soal nomor 8 (keterampilan proses siswa dalam mengkomunikasikan). Perlu ada perbaikan secara individual  bagi siswa yang tidak tuntas, yaitu siswa nomor 7, 12, 14, 15, 21, dan 40.

2.     
Para guru hendaknya mempunyai kemauan yang tinggi untuk melaksanakan pendekatan keterampilan proses melalui program pembelajaran yang terencana, hindari kebiasaan pembelajaran dengan pola duduk, dengar, catat dan hafal.

  1. Hendaknya sekolah dapat melengkapi alat-alat praktik penyediaan laboratorium yang bersih dan aman sehingga pelaksanaan pendekatan keterampilan proses dapat berjalan lancar. Tanpa adanya alat praktik dan laboratorium yang memadai pendekatan keterampilan proses tidak akan berjalan dengan lancar

DAFTAR PUSTAKAAndi Rasdiyanah, 1996, Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Madrasah  Tsanawiyah, Departemen Agama, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama IslamAnonim, Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Kurikulum SLTP 1994 Edisi 1999, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.Darmodjo Hendro dan Jenny R.E. Kaligis, 1992, Pendidikan IPA I, Depdikbud, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan, Jakarta______, 1992, Pendidikan IPA II, Depdikbud, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan, Jakarta

Druxes Herbert, dkk alih bahasa  Soeparmo, 1996, Kompendium Dikdaktik Fisika, CV Remadja Karya,
Bandung.

Foster Bob, 2000, Seribu Pena Fisika SLTP Kelas 3, Penerbit Erlangga,
Jakarta

Hallliday dan Resnick, 1977, Fisika, Erlangga, Surabaya

Idell Antony dan Haryono, Rudy, 2000, Pintar Fisika SMP, Gitamedia Press,
Surabaya

Iskaandar Sri. M dan Eddy M. Hidayat, 1997, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, bagian Proyek Pegembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
Jakarta

Kanginan Martin,  2000, Fisika SLTP 3, Penerbit Erlangga,
Jakarta

Karttono Kartini, 1980, Pengantar Metodologi Research, Alumni,
Bandung

Muhaamad Ali, 1982, Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi, Angkasa,
Bandung

Singarimbun Masri dan Sofyan Effendi, 1995, Metode Penelitian Survai, LP3ES,
Yogyakarta.

Subagio Lambang, 2002, Penyusuan Modul/Lembar Kegiatan Siswa (LKS) atau Petunjuk Praktikum IPA, Makalah disajikan dalam Diskusi Pengelolaan Laboratorium IPA SLTP bagi Guru-guru di Kalimantan Timur, Oktober 2002.

 Sumber : Guruvalah Research

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: