Perlu Upaya Murahkan Buku

ADA keriaan dunia perbukuan dalam rangka “World Book Day” di Plaza Depdiknas, Senayan, Jakarta, 26-29 April 2007 lalu. Perayaan itu mengangkat tema “Buku untuk Perubahan”. Sejauh mana buku bisa menjadi jalan perubahan ke arah lebih baik? Yang jelas terasa, buku masih jadi barang mahal!Kawan Kampus masih asing dengan “World Book Day”? Hari Buku Sedunia, yang dirancang oleh UNESCO itu, memang tergolong barang baru di Indonesia. Tahun ini, jadi kali kedua Indonesia ikut merayakannya, atas prakarsa Forum Indonesia Membaca (FIM).

“World Book Day” sebenarnya sudah berumur 80 tahun-an alias cukup tua. Awalnya, sebagai bagian dari perayaan “St. George Day” di wilayah Katalonia. Saat itu, buku dan bunga dijadikan sebagai hadiah buat orang yang kita sayangi. Sampai akhirnya tahun 1995, Konferensi Umum UNESCO di Paris, meresmikan tanggal 23 April sebagai “World Book Day”, untuk perayaan buku dan literasi yang mendunia.

Lantas, seperti apa perayaannya di Jakarta? Sebenarnya hampir tak jauh berbeda dengan pameran buku yang biasa kita lihat. Ada kira-kira 70-an penerbit, distributor buku, dan komunitas literasi tumplek di sana. Ada juga berbagai lomba dan talkshow yang menghadirkan pembicara seperti penulis Ayu Utami, Fira Basuki, Joko Pinurbo, Akmal Nassery Basral, dan insan perbukuan lainnya. Di sana, selain bisa dapat buku diskon, bahkan buku langka, orang-orang juga bisa berkenalan dengan puluhan komunitas baca dan pencinta buku yang menarik dan patut diberi perhatian lebih lanjut.

Omong-omong tentang buku untuk perubahan, tentu tak salah berharap demikian pada si jendela dunia ini. Pastilah ada hubungan sebab akibat, minimal untuk perluasan pengetahuan. Namun, pengaitan bahwa buku bisa seketika membuat perubahan cara pandang, apalagi pada level tindakan, rasanya harus bersabar. Sebab, jika melihat kenyataan di negeri ini, akses pada perbukuan saja masih terbilang sulit.

Kesulitan itu tercermin dari keluhan yang ada. Dari mulai soal mahalnya harga buku, sampai penyebarannya yang belum merata. Seperti disuarakan oleh Daris, relawan Komunitas 1001 Buku, sebuah komunitas yang sejak tahun 2002 kerap mendistribusikan buku-buku hasil sumbangan sana-sini, pada berbagai taman baca di Indonesia, khususnya untuk anak jalanan dan daerah-daerah terpencil. “Akses terhadap buku sebenarnya adalah hak kita,” kata Daris, tegas.

Pajak perbukuan

Kenapa harga buku mahal? Pertanyaan ini sering menggema dalam obrolan antarmahasiswa, dosen, dan umumnya siapa pun yang suka atau butuh buku. Coba cek lagi daftar must buy books kepunyaan kawan Kampus. Berapa banyak buku teks kuliah, yang berbandrol puluhan ribu, atau mungkin ratusan ribu nangkring di daftar itu? Terus bagaimana nasib novel, komik, atau bacaan lainnya, yang juga ingin kita beli? Buat anak rantau yang pas-pasan, boro-boro beli buku, cukup ongkos dan makan saja mungkin sudah untung.

Penulis Ayu Utami mengakui, kalau buku masih jadi barang mahal di Indonesia. Ayu mencontohkan India, sebagai salah satu negara dengan harga buku terjangkau karena bisa sepertiga kali lebih murah. Itu terjadi akibat political will untuk menerbitkan buku murah sehingga rakyatnya bisa membeli buku dengan harga bersahabat. Berkat kondusifnya industri perbukuan India, negara ini telah mencatat sejarah dengan 2 kali menjadi tamu kehormatan dalam festival buku prestisius di Frankfurt.

“Pemerintah Indonesia sebenarnya bisa membuat komoditas tertentu, seperti buku, jadi lebih murah. Di mana kebijakan semacam itu pernah dilakukan untuk kaset,” kata Ayu.

Untuk yang penasaran sama seluk-beluk harga buku, Anwar Holid, dari penerbit Jalasutra, punya penjelasannya. Dikatakan Anwar, pada umumnya penentuan harga jual buku adalah 4-5 kali harga bersih buku setelah dicetak. Itu sudah standar dalam dunia penerbitan karena menyangkut berbagai macam aspek. Dari mulai ongkos produksi (kertas, tinta, film, dsb.), biaya kirim, rabat toko buku, sampai royalti penulis. “Para penerbit masih mengeluhkan ongkos produksi yang mahal,” kata Anwar.

Anwar menuturkan, boleh dibilang sudah lama para penerbit mengusulkan agar pemerintah, memberi kebijakan khusus seputar komponen yang diperlukan industri perbukuan, seperti kertas. Ini terkait erat dengan apa yang disebut free tax for knowledge (bebas pajak untuk pengetahuan) yang diminta oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada pemerintah untuk bisa menjaminnya.

Mahalnya harga buku itu kemudian menimbulkan dampak. Salah satunya, membuka peluang pembajakan. Pembajakan ini memang persoalan dilematis, seperti dituturkan penulis Joko Pinurbo. Jokpin -demikian panggilannya, mengakui, tentu dirinya memilih buku murah, dan tidak jarang itu bajakan. Namun, ia juga merasakan pedihnya ketika buku dibajak. Yang dirugikan akibat pembajakan sebenarnya bukan hanya penulis dan penerbit. “Konsumen juga, karena dari beberapa kasus seperti buku terjemahan, itu melenceng dari yang asli,” kata Fernando Rahadian, dari penerbit Unpar Press.

Balik lagi ke soal harga buku. Di sisi lain, banyak juga lho orang-orang yang tetap hobi beli buku meski mahal, atau dompet pas-pasan. Apa pasal? Menurut Rito Triumbarto, panitia pengarah FIM, sebenarnya tingginya minat baca tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kemampuan ekonomi seseorang –satu dalih yang kerap disasar orang sebagai penyebab jebloknya minat baca. “Itu seringnya hanya alasan saja. Padahal, kita biasa keluar uang untuk beli pulsa atau makan di restoran, enggak pakai sayang uang segala,” tutur Rito.

Dia juga menambahkan, minat baca (buku) seseorang, sangat bergantung pada bagaimana orang itu menganggap penting atau tidaknya suatu informasi. “Di kampus, kalau bisa, dosen kasih bahasan up to date sehingga muncul need of information dari mahasiswanya,” ucapnya.

Gerakan literasi lokal

Keliling-keliling puluhan stan di Plaza Depdiknas, Kampus pun bisa kenalan sama berbagai puluhan komunitas baca dan pencinta buku, yang sungguh menarik. Coba tengok kiprah Agus Munawar lewat taman bacaan Arjasari, yang didirikannya di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, kira-kira 40 kilometer dari pusat Kota Bandung. Kebayang kan jauhnya jarak dari perkampungan itu untuk mengakses perbukuan, yang biasanya ada di pusat kota? Agus yang prihatin tergerak untuk menyulap dapurnya jadi perpustakaan. Setelah 6 tahun berdiri, Agus terbilang mampu membuat gerakan membaca di Arjasari.

Masih banyak komunitas lainnya yang punya inisiatif meningkatkan kemampuan literasi di kalangan mereka sendiri atau yang membutuhkan, seperti Himaka Fikom Unpad yang mendirikan Rumah Belajar Mandala di Nagreg, Rumba Sosiologi UI di Depok, Rumah Baca Kuartet di Cibubur, Matapena dan Rumah pelangi di Yogyakarta, dsb.

Menurut tokoh perbukuan Mula Harahap, kelompok-kelompok seperti ini, baik murni bermuatan sosial atau juga dikombinasikan sebagai entitas bisnis, telah membentuk gerakan dan kekuatan literasi di tingkat lokal. “Mereka inilah contoh orang-orang yang tidak kasak-kusuk minta subsidi pada negara, tapi bisa bergerak,” kata Mula, yang juga dari Ikapi Jakarta.

Omong-omong subsidi pada industri perbukuan, Mula menilai itu bisa berkemungkinan membuat tidak mandiri. Menurutnya, langkah signifikan yang bisa dilakukan pemerintah adalah memerhatikan rumah baca dan perpustakaan dari SD sampai perguruan tinggi sehingga orang jadi mudah mengakses buku. “Di Inggris, perpustakaannya sedemikian baik karena pemerintah membeli buku-buku dari penerbit, bukan menyubsidi. Bahkan, penerbit di sana sampai cari pasar di negara lain,” kata Mula.

Banyak harapan dan pekerjaan rumah agar industri buku Indonesia bergerak lebih lincah. Memang bukan perkara mudah, tapi mungkin bisa dimulai dari menekan pajak dan ongkos produksi buku, sampai memperhatikan perpustakaan. Jika buku murah, pastilah banyak orang mau membeli dan membaca buku. Tahun depan, “World Book Day” ini rencananya akan dikembangkan menjadi festival buku internasional, dengan mengundang beberapa negara tetangga. Ke depan, siapa tahu Indonesia juga bisa jadi tamu kehormatan “Frankfurt Book Fair”? Atau, minimal membudayakan buku sebagai salah satu bentuk hadiah pada orang tersayang –seperti sejarahnya “World Book Day”, tentu tidak ada salahnya kita lakukan. Setuju? ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: