Saat Guru tak Lagi Melindungi

Pendisiplinan dengan kekerasan di sekolah menimbulkan rasa dendam dan rantai kekerasan dari generasi ke generasi.

Hari itu, Bu Guru mengecek dari meja ke meja apakah semua murid kelas tiga membawa buku paket.
Bu Guru berhenti di meja Mimi. ”Kok, nggak bawa buku?” tanyanya.
Kan bukunya sama, Bu?” jawab Mimi. Gadis cilik itu belum punya buku paket IPS baru. Ia membawa buku paket bekas sang kakak.
”Tapi, itu buku dua tahun lalu!”
”Isinya sama, Bu.”
”Taruh tanganmu di atas meja.”
Mimi meletakkan telapak tangannya di atas meja.
Prakkk!
Penggaris kayu menghantam sepuluh jari tangannya.

Panas, sakit. Mimi menahan air matanya. Pasalnya, ini yang kedua kalinya dalam sepekan. Sebelumnya, ‘hadiah’ serupa diterimanya karena lupa meminta tandatangan orang tua pada PR-nya.

Mungkin, tindakan guru Mimi adalah untuk mendisiplinkan anak. Suatu cara pendisiplinan yang sarat dengan kekerasan. Tak cuma Mimi, banyak anak mengalami nasib tak jauh beda, ada yang lebih keras lagi.

Dari laporan yang masuk ke Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), sebanyak 192 kasus kekerasan terhadap anak di sekolah pada 2006 meningkat menjadi 226 kasus pada Januari-April 2007.

Menurut Sekjen Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, belum lama ini, bila pada 2006 sebanyak 15,10 persen berupa kekerasan fisik, 34,9 persen kekerasan seksual, dan 50 persen kekerasan psikis, pada tahun 2007 terjadi perubahan besar. Kekerasan psikis terhadap anak di sekolah meningkat hingga angka 80 persen. Apa bentuknya? ”Mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, mendiskriminasikan, menyamakan seperti binatang,” ujarnya, mencontohkan.

Seperti gunung es
Kekerasan terhadap anak-anak di lingkungan sekolah, kata Ketua Umum Komnas PA Seto Mulyadi, bagaikan gunung es. Kasus Mimi hanya satu dari lebih banyak lagi kasus yang tidak terekspos, terutama di daerah-daerah. Di Makassar, menurut Seto, ada siswa tewas akibat kekerasan yang dilakukan gurunya. Tapi, kasus ini tidak pernah diproses. Belum lagi jika ditambah kasus kekerasan yang dilakukan sesama teman di sekolah.

Guru adalah orang yang paling dimuliakan, pengganti ayah bunda di sekolah. Malangnya, pelaku kekerasan sebagian besar bapak guru, barulah kemudian kepala sekolah dan ibu guru. ”Ini tidak memojokkan guru, tapi ini fakta yang terlaporkan,” tambah Arist.

Alasan kekerasan itu, sebanyak 54 persen merupakan pendisiplinan. Arist mengungkap kasus-kasus guru yang memukul, menjemur, menyuruh anak mengosek WC selama tiga jam menjadi kasus yang umum terjadi.

Hingga saat ini masih banyak sekolah atau guru berdalih melakukan hukuman kepada siswa dengan kekerasan. Alasannya, agar anak-anak menjadi disiplin. Seto menilai paradigma itu salah kaprah, karena tidak ada kaitannya antara disiplin dengan kekerasan. Sekolah memang harus menerapkan disiplin bagi guru-guru maupun siswa. Tapi disiplin itu tidak identik dengan kekerasan. Untuk menerapkan bisa dengan komunikasi, tidak dengan cara menyakiti.

Kalau ada guru yang menerapkan disiplin dengan cara-cara yang mengakibatkan anak sakit, itu namanya kekerasan. ”Karena kekerasan itu, semua tindakan yang menimbulkan rasa sakit, baik sakit fisik ataupun psikis, itu semua termasuk kekerasan,” papar alumni Fakultas Psikologi UI ini. Dra Evita MPsi, dosen jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, membenarkan hal itu. Ia menyebut, kekerasan bisa juga berbentuk hal-hal yang membebani murid. Misalkan memberi PR sebanyak 100 soal harus dikumpulkan keesokan harinya. ”Masak memberi tugas tidak proposional, tidak realistis, tidak sesuai dengan kemampuan anak, orang tua bisa menuntut,” tandasnya.

Tidak imun
Evita mensinyalir, salah satu penyebab guru melakukan kekerasan adalah karena masih banyak guru yang mengajar sekadar menjalankan kewajiban. Targetnya tercapai kurikulum tanpa mendalami bagaimana emosional anak saat itu.

Karena itu, Evita mengingatkan, tak mudah untuk menjadi guru. ”Guru TK dan SD harus mempunyai basic psikologi pendidikan. Mereka itu harus paham karakteristik perkembangan anak. Makanya, tidak mudah menjadi guru TK atau SD kelas 1 sampai tiga, karena harus menurunkan pola berpikir untuk memahami anak-anak,” katanya.

Padahal, lanjut Evita, tidak ada imun bagi guru yang melakukan kekerasan. Guru yang melakukan kekerasan membuat kesan tidak baik bagi murid-muridnya. Bahkan, kata dia, ekstremnya bisa menimbulkan dendam bagi si murid. Sekalipun ada pendapat karena faktor keluarga ada anak-anak yang hanya bisa disiplin dengan ‘agak’ kekerasan, ia pun tetap tidak setuju. ”Apa pun alasannya, stop kekerasan fisik, jangan sama sekali.”

Bagaimana menciptakan disiplin terhadap anak? Menurut Evita, disiplin pada anak itu abstrak. Hanya bisa dilakukan dengan model, contoh keteladanan yang konkret dan dilakukan dengan konsisten. Kalau di sekolah guru-guru yang menjadi teladan. Oleh karena itu, tidak benar kalau disiplin identik dengan kekerasan tapi harus diterapkan secara menyenangkan kreatif dan humanis.

Guru yang kreatif pasti bisa menerapkan disiplin yang menyenangkan bagi siswanya. Dia akan memberikan alasan yang logis, bisa diterima murid jika tidak mengerjakan PR, terlambat datang ke sekolah atau berisik.

Harus dihentikan
Bagi lingkungan sekolah yang terbukti melakukan kekerasan terhadap siswanya, Seto menganjurkan agar orangtua mengajukan protes agar kekerasan itu dihentikan. Tidak ada salahnya kalau orang tua membuat visum sebagai barang bukti. Kalau terbukti melakukan kekerasan guru itu bisa terjerat UU Perlindungan Anak.

Ketika orangtua datang ke sekolah, tentu saja dengan etika, tidak membabi buta. Karena kalau belum apa-apa sudah marah-marah, akibatnya tidak baik bagi si anak. Bisa-bisa si anak bakal ditandai oleh guru atau teman-temannya. ”Lebih efektif kalau orangtua datang ke POMG semacam lembaga komunikasi antara orangtua dengan guru. Sampaikan agar kekerasan terhadap anak segera dihentikan,” tegas Seto.

Sementara itu, di tempat terpisah, Evita mengingatkan agar orangtua jika anaknya mengalami kekerasan di lingkungan sekolah secepat mungkin melapor. Kalau memungkinkan telepon saat itu juga ke sekolah atau menghadap ke kepala sekolah. ”Pokoknya harus dituntaskan jangan sampai ditunda-tunda,” tegas Evita.

Semua ini harus diselesaikan agar tidak ada lagi korban anak-anak berikutnya oleh si oknum guru tersebut. Evita cenderung tidak menyarankan agar buru-buru memindahkan sang anak. ”Mungkin dengan pindah sekolah anak kita bisa aman, terlepas dari si oknum guru. Tapi bagaimana nasib murid-murid lainnya?” ujarnya.

Banyak sekolah bisa menyelesaikan masalah tanpa akhirnya mengorbankan anak. Artinya, anak bisa nyaman kembali belajar. Tapi, bila pihak sekolah ngotot tidak merasa bersalah, Seto berpendapat, tidak ada salahnya menempuh jalur hukum. ”Laporkan saja ke polisi.”

Demi keselamatan anak, Seto menyarankan, untuk langkah selanjutnya lebih baik memindahkannya dari sekolah tersebut. ”Karena kasihan si anak bisa tertekan akibat dikasih nilai buruk, diasingkan atau dimarah-marahi.”

Tapi, kalau jika tidak memungkinkan untuk pindah sekolah, Kak Seto mengharapkan orang tua fight terus berjuang demi melindungi anaknya. Jika tetap mentok salah satu jalannya melaporkan ke Komnas PA. ”Banyak kasus kekerasan di sekolah yang sudah kita tindak lanjuti dengan mengirim surat atau mengirim utusan ke sekolah tersebut. Semua ini kami lakukan agar anak-anak terlindungi dan tetap nyaman dalam hidupnya,” kata Seto.

Bila lingkungan sekolah itu tidak peduli atau melindungi si oknum guru, Evita memberikan solusi untuk melaporkan ke asosiasi perlindungan anak, salah satunya Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia. Di lembaga itu ada bidang advokasi yang bisa menindaklanjuti jika ada kasus berkaitan dengan pendidikan, termasuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh oknum guru.

Sumber: Republika Online/Minggu, 13 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: