Pembelajaran Berbasis Siswa Tingkatkan Potensi Siswa

TANGERANG –Proses belajar berbasis siswa melahirkan anak kreatif. Gagasan itu dilontarkan Ketua Yayasan Tim Olimpiade Fisika Prof Yohanes Surya pada Seminar Pendidikan di sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang, Sabtu (12/5).

Pendidikan berbasis siswa melatih logika berpikir anak. Dari situ kreativitas muncul. ”Anak kreatif mengubah sesuatu yang aneh menjadi sesuatu yang unik,” kata Yohanes di hadapan peserta seminar. Yohanes mengatakan pendidikan bukan ingin menciptakan manusia robot yang pandai menggunakan kalkulator melainkan individu yang mampu menggunakan logika berpikir secara benar.

Pada kesempatan yang sama, Dosen Universitas Pamukkale, Turki, Prof Dr Hasan Kaplan, mengatakan perbedaan paling mendasar antara pola klasik dengan pembelajaran berbasis siswa adalah pada fungsi guru. ”Pada pembelajaran berbasis siswa, guru itu pendorong dan partisipatif dan bukan pemberi informasi,” kata Kaplan. Dengan metode partisipatif, sisi baik dari seseorang terasah.

Menurut Yohanes, kreativitas adalah kemampuan seseorang mengungkapkan ide atau solusi dengan cara yang tidak terpikirkan banyak orang. ”Kreativitas bisa melahirkan penemu-penemu baru,”imbuhnya. Yohanes menyebutkan, ada tiga tahap kreativitas yang terkait dengan penemuan ilmiah. Tiga tahap tersebut adalah saturasi, inkubasi, dan iluminasi. Saturasi, kata Yohanes, adalah memasukan ide-ide sampai jenuh. ”Belajar hingga jenuh, dan anak harus dipaksa,” katanya.

Yohanes melanjutkan, setiap individu memiliki kemampuan self organizing atau mengatur diri sendiri. Kondisi jenuh itu akan membuat anak berpikir. ”Karena itu, pada tahap ini berpikir menjadi hal yang paling utama.”

Proses selanjutnya adalah inkubasi dan iluminasi. Tahap ini melibatkan proses pengeraman ide-ide atau perenungan dan pengambilan kesimpulan. Namun, kata Yohanes, ketiga proses kreativitas tersebut dapat dilakukan jika ada dorongan bagi si anak dan proses pembelajaran terus-menerus. Dorongan ini, kata Kaplan, harus dilakukan berdasarkan kerja sama orang tua, dan guru.

”Berikan siswa informasi sebanyak-banyaknya dan bervariasi,” paparnya. Yohanes menganjurkan penggalakan budaya membaca. ”Dengan banyak membaca akan ada banyak informasi yang tersimpan di memori otak,” katanya. Sehingga informasi ini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang ditemukan di masa mendatang. c52

Sumbr: Republika Online/15 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: