Upaya Mendongkrak Popularitas PLS

Oleh HASCARYO T.H.

Setiap kali orang membicarakan pendidikan, mereka biasanya cuma membahas pendidikan formal (sekolah). Kita jarang melirik pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah (PLS), yang kontribusinya tak bisa diremehkan dalam mengurangi pengangguran. 

pendidikan dikelompokkan menjadi 3 bidang macam, pendidikan formal (sekolah ), pendidikan nonformal disebut juga pendidikan luar sekolah (PLS) yang berupa kursus-kursus, dan pendidikan dalam keluarga yang biasa disebut pendidikan informal.

Keberadaan pendidikan nonformal mengalami pasang surut. Seperti dikemukakan Kasubsi PLS Disdik Kabupaten Bandung Drs. Tedi Priatna, keberadaan kursus di Kabupaten Bandung yang pada tahun 2005 berjumlah kurang lebih 120-an tempat kursus menurun menjadi 90-an pada tahun 2006. Jumlah ini mungkin menurun lagi tahun ini, sebab data pasti belum terkumpul. Mengapa terjadi demikian?

Ada beberapa penyebab. Antara lain, (1) Pengelolaan yang kurang baik. Masalah ini menyangkut promosi, kebutuhan pasar yang sudah jenuh, juga sarana penunjang yang tidak memadai. (2) Pemerintah, dalam hal ini penilik PLS dan Disnaker, kurang instensif dalam membimbing dan mengawasi perkembangan PLS.

Dua persoalan di atas memunculkan cara meningkatkan popularitas PLS di masyarakat. Dari faktor intern pengelola ada beberapa hal yang perlu dilakukan. (1) Bidang/rumpun yang diambil sebisa mungkin harus prospektif, jangan mengambil rumpun yang telah jenuh. Kalau rumpun sudah jenuh untuk inovasi maka bisa menjadi tidak prospektif lagi. Contoh kursus menjahit (modeste), dengan melihat permintaan pasar yakni dunia garmen yang membutuhkan penjahit yang bisa menjalankan mesin jahit high speed atau bahasa pasarnya mesin juki, maka pengelola kursus harus berupaya untuk mengikutinya.

(2) Sarana penunjang pendidikan pun harus diperhatikan seoptimal mungkin kalau tidak mau ditinggal pelanggannya. Sebagai, kalau di masyarakat sudah menggunakan komputer Pentium 4, jangan coba-coba masih menggunakan Pentium 1. Demikian juga program-program yang up to date, misal sekarang tren Window XP, jangan menawarkan program Window yang sudah ketinggalan. Hal ini untuk mengantisipasi program life skill yang diberlakukan di sekolah-sekolah pada umumnya.

(3) Promosi, aspek ini merupakan ujung tombak dari berhasil-tidaknya PLS yang bersangkutan. Tak kenal maka tak sayang, ungkapan ini cocok untuk menggambarkan sosok PLS yang bersangkutan di masyarakat. Juga perlunya hubungan dengan instansi terkait baik dengan pemerintah maupun swasta.

Selain dari faktor intern, ada juga faktor ekstern yang mendukung berkembangnya PLS, yakni pihak pemerintah. Ada berita yang menggembirakan bagi para pengelola PLS dari pemerintah yakni, (1) Adanya deregulasi perizinan kursus yang pada waktu dulu izin itu dikeluarkan oleh dua lembaga yakni Disdik dan Disnaker, mulai sekarang izin PLS hanya dikeluarkan oleh Disnaker, sementara Diknas berfungsi sebagai badan yang berwenang mengadakan ujian negara.

(2) Di dalam Ditjen PLS Depdiknas, sekarang ada jabatan Direktur PLS yang khusus menangani pembinaan kursus dan kelembagaan. Cara ini bisa membawa angin segar bagi PLS khususnya pengelola kursus karena makin diperhatikan oleh pemerintah.

(3) Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri No. Kep. 131/DPPT KDN/XI/2004 tentang Petunjuk Teknis Bursa Kerja Khusus, memungkinkan PLS untuk membuka bursa kerja bagi lembaganya dengan seizin Disnaker sehingga ini bisa meningkatkan percaya diri pengelola maupun lulusan lembaga kursus yang bersangkutan.

Maka, PLS yang baik bisa mengangkat gengsi PLS, baik di mata lembaga itu sendiri maupun masyarakat. Masyarakat tidak perlu malu lagi belajar di PLS. Bahkan, kalau iklan SMK punya Tantowi Yahya, bukan tidak mungkin nantinya di media massa muncul Nia Ramadhani (artis, peserta PLS home schooling) yang kira-kira berkata begini, “Sebagai peserta PLS, saya tetap bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Yang penting lagi, saya tetap bisa bekerja tanpa terganggu urusan pendidikan.”*** Penulis, guru dan pengelola LPK Putra Kencana 2 Sayati Kabupaten Bandung.

Sumber : Pikiran Rakyat/23 Mei 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: