Wajar, Korban UN Menang

KEMENANGAN korban Ujian Nasional (UN) atas gugatannya terhadap pemerintah berkaitan dengan penyelenggaraan UN, cukup wajar. Kita sebut wajar, karena dengan begitu jelaslah sudah ada dalam posisi mana UN itu sebenarnya. Siapa yang salah menerapkan kebijakan, juga sudah jelas. Masyarakat yang peduli terhadap korban UN dan terutama korbannya, boleh bernafas lega. Meski mereka mungkin sudah lulus Paket C dan tidak memerlukan lagi ijazah SMU, tetapi kemenangan ini menjadi bukti bahwa mereka sebenarnya hanya korban sebuah sistem, bukan karena semata-mata bodoh.

Seperti kita ketahui, siswa yang tidak lulus UN dan kelompok masyarakat yang peduli mereka mengajukan gugatan bersama kepada pemerintah atas penyelenggaraan UN. Gugatan diajukan lewat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kelompok yang mengajukan gugatan adalah Jaringan Nasional Perempuan Mahardika, Gerakan Siswa Bersatu, Suara Hati Pelajar, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, Federasi Guru Independen, LBH Pendidikan, LBH Jakarta dan artis. Mereka menolak UN sebagai penentu kelulusan.

Sementara itu, hakim dalam putusannya menyebutkan, pemerintah telah lalai dalam meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana pendidikan. Tergugat diminta meninjau kembali pelaksanaan UN, kualitas guru dan sarana pendidikan di daerah. Menurut hakim, tergugat juga telah memenuhi unsur melawan hukum karena menimbulkan kerugian materiil dan imateriil bagi siswa yang tidak lulus.

Menurut kita, putusan di atas menunjukkan hakim jeli dalam membaca penderitaan rakyat. Ini merupakan keputusan yang patut dipuji karena bisa dirasakan manfaatnya. Sebelum dibawa ke pengadilan, DPR sebenarnya juga memperjuangkan hal itu. Tapi entah mengapa tiba-tiba semua diam dan tidak ada lagi yang membela nasib siswa yang tidak lulus. Padahal DPR memiliki kewenangan yang lebih dibanding institusi lain. Seandainya perjuangan DPR tidak behenti, tentu masalahnya tidak perlu sampai ke pengadilan. Ini bukti, kepentingan masyarakat tidak terwakili.

Kita yakin, keputusan pengadilan itu tidak akan menyurutkan niat pemerintah untuk tetap menyelenggarakan UN. Selain belum berkekuatan hukum yang tetap karena masih akan mengajukan banding, sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu bahwa pemerintah tidak pernah mau kalah. Kalau toh kepepet, paling banter diam saja seperti dalam menyelesaikan kasus pelanggaran Hak Azazi Manusia. Pemerintah merasa sebagai penguasa, sehingga apa pun yang dilakukan harus dianggap benar. Termasuk dalam penyelenggaraan UN, tak satu pun saran masyarakat yang diterima. UN tetap jalan sesuai yang diinginkan pemerintah.

Alangkah terpujinya jika pemerintah mengurungkan niatnya untuk mengajukan banding ke pengadilan tinggi. Tetapi jika pun tetap banding, hendaknya ini tidak menyurutkan semangat korban UN untuk mencari kebenaran dan keadilan. Putusan pengadilan tingkat pertama yang memvonis pemerintah bersalah, sudah cukup memberikan kekuatan moral bahwa perjuangan korban UN itu benar adanya. Syukur DPR mau menyikapinya agar tidak ada lagi korban UN, apalagi tahun depan SD pun akan dikenakan UN.

UN memang sarat problematik. Ingin meningkatkan mutu pendidikan di satu pihak dan kenyataan rendahnya sarana dan prasarana di lain pihak, adalah dua hal yang tidak pernah ketemu. Kalau toh UN tetap dilaksanakan, akibatnya adalah korban berjatuhan. Kalau dari tahun ke tahun angka kelulusan meningkat belum menjamin peningkatan mutu, karena siswa kelas III lebih konsentrasi pada pelajaran yang di-UN-kan sehingga secara keilmuan kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Kalau tak ada yang mau mundur, ada cara yang mungkin bisa dipertimbangkan. UN tetap dijalankan seperti biasa, tetapi kelulusan siswa ada di tangan guru. UN lebih sebagai alat untuk mengukur perkembangan pendidikan. Lebih praktis, tidak melanggar HAM, biayanya juga lebih murah, tidak perlu pakai proyek bermiliar-miliar rupiah seperti sekarang.

Sumber: Banjarmasin Post/24 May 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: