Fasisme Dalam Dunia Pendidikan

1.  Pendahuluan  

 

Hadiah apa yang lebih besar dan lebih baik yangbisa kita berikan kepada negara kalau bukan mengajar dan mendidik orang-orang muda kita.Cicero 

 

Pesan dari Cicero mengingatkan kita kembali akan pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa dan negara. Andaikan suatu negara tidak memiliki pendidikan, itu mungkin akan menjadi neraka ke dua bagi kita. Sebuah bangsa berkembang karena memang memiliki tingkat pendidikan dan kualitas sumber daya manusia yang tinggi.

Kita mungkin masih ingat bagaimana Jepang harus menyerah pada sekutu saat perang dunia ke dua. Kerugian besar melanda Jepang, politik, ekonomi, serta tata kehidupan sosial luluh lantah. Pada saat itu kaisar Jepang tidak menanyakan berapa jumlah pasukan yang masih tersisa?, berapa amunisi yang masih tersedia?, tetapi dia menanyakan berapa guru yang masih tersisa?. Kaisar Jepang tahu betul akan manfaat keberadaan guru sebagi tombak untuk kembali membangun Jepang yang sudah hancur. Dan terbukti secara bertahap, Jepang mulai menunjukkan diri sebagai bangsa yang maju dan berkembang, malah sekarang Jepang mungkin menjadi raja asia seperti yang mereka kumandangkan (Nipon cahaya Asia, Nipon pelindung Asia, Nipon pemimpin
Asia).

Pendidikan memang merupakan suatu motor penggerak bagi perubahan bangsa dan Negara. Winston Churchill mengatakan bahwa usaha perbaikan merupakan perubahan, untuk menjadi sempurna membutuhkan perubahan yang lebih sering. Kita memang tidak bisa melepaskan peran yang lain untuk melakukan perubahan seperti politik, ekonomi, budaya dan yang lainnya. Tetapi, tak ada perubahan tanpa pendidikan yang matang. Dengan pendidikan, manusia dibentuk untuk sadar akan peranannya sebagai manusia, ia dituntut untuk berperan serta aktif dalam segala bidang sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Sejarah memberikan gambaran yang cukup banyak bagaimana orang-orang besar ditempa, digembleng dengan pendidikan yang matang untuk merubah dunia ini, bahkan Muhammad pun dididik untuk menjadi nabi – dalam rentang waktu yang cukup lama mulai dari fase gua hira atau denga fase madinah.

Sehubungan dengan pentingnya pendidikan sebagai alat perubahan, tentunya kita harus memiliki sebuah sistem yang menjadi rancang bangun bagi terciptanya sebuah pembelajaran yang produktif. Kita juga harus memiliki pola belajar dalam pendidikan yang sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia. Ingat yang dikatakan oleh Immanuel Kant bahwa sistem dibuat oleh manusia, dan untuk memanusiakan manusia. Bagaimana dengan pendidikan di negara kita, apakah sudah dapat memanusiakan manusia?. Untuk menjadikan pendidikan sebagai pabrik manusia, landasan-landasan filosofis kita mengenai manusia harus tetap kita pegang. Apakah hal itu berkaitan dengan potensi, prilaku, sifat, ataupun karakteristik manusia pada umumnya.

Namun sayangnya, di dalam dunia pendidikan masih terjadi pola penyimpangan yang tidak memperhatikan asas-asas manusia. Dalam makalah ini, penulis akan membahas satu pola penyimpangan dalam dunia pendidikan tersebut, terutama hal yang berkaitan dengan kekerasan dalam dunia pendidikan.

Kekerasan atau yang sering diidentikkan dengan fascisme masih sering terjadi di dalam dunia pendidikan. Kita sering mendengar dalam berita bagaimana seorang guru memperlakukan murid dengan tidak wajar. Misalnya, seorang murid dipukul karena satu kesalahan, dihukum dengan hukuman yang tidak mendidik, bahkan kita sempat ngeri ketika mendengar ada murid yang mati karena gurunya. Seorang anak memiliki kemampuan yang sangat peka terhadap apa yang mereka rasakan dan alami. Jika perlakuan fasis ini melekat pada otak serta hati si anak, tentunya akan berdampak pada kehidupan sosial yang akan datang, pada sebuah masa yang akan mereka hadapi, dan pada sebuah zaman yang tidak bisa mereka hindarkan.

Contoh tersebut hanyalah sebagian kecil yang sering kita lihat dan dengar, tidak menutup kemungkinan masih banyak tindakan fascisime di dunia pendidikan, yang sayangnya tidak kita sadari. Jika pendidikan dikatakan sebagai aktifitas khas manusia, apakah lalu kita akan mengatakan bahwa kekerasan (fascisme) juga merupakan aktifitas khas manusia?, dengan berpegang pada klausul bahwa manusia adalah serigala bagi manusia yang lain?.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, karena pendidikan sebagai alat perubahan, tentunya kita harus menjauhkan pendidikan dari fascisme. Fascisme bukanlah teman yang baik sebagai pendamping pendidikan dalam cita-cita perubahan. Dunia pendidikan harus mampu menanamkan nilai-nilai, norma, serta kaidah yang sesuai dengan kodrat manusia, hanya dengan itulah manusia akan sadar akan terciptanya sebuah perubahan.

2.  Akar Fascisme Kata Fascisme berasal dari kata Fascio. Dalam bahasa Latin disebut dengan fasces yang artinya seikat tangkai atau tongkat yang dililitkan pada sebuah kapak. Benda tersebut digunakan sebagai lambang dari sebuah kekuasaan politik yang didukung oleh persatuan bangsa dan pertama kali digunakan oleh bangsa Romawi Kuno (Elson, 1986:25). Kata inilah yang digunakan Mussolini untuk partai yang didirikannya yaitu fascio dicombattimento pada tahun 1921. Oleh sebab itu, bila berbicara mengenai fascisme maka kita akan selalu ingat kepada nama orang satu ini (Mussolini).Semenetara itu dalam Kamus Filsafat disebutkan fascis adalah sebuah sistem pemerintahan di mana semua kekuasaan berada pada tangan seorang diktator absolut. Sistem pemerintahan ini ditandai dengan pengawasan sosial dan ekonomi yang ketat, kebijakan nasionalistik yang seringkali disertai rasisme dan penindasan terhadap terhadap kritik dan oposisi. Walupun fascisme selalu diidentikkan dengan sistem pemerintahan dan politik, namun kita dapat mengambil sebuah identifikasi baru – dari dua pengertian fascis di atas – tentang facsisme dalam dunia pendidikan. Adapun kata kunci yang bisa kita ambil sebagai gejala fascisme dalam dunia pendidikan diantaranya: kekuasaan diktator absolut, rasisme, serta yang terakhir penindasan terhadap kritik dan oposisi. Dari tiga indikasi ini, kita akan mencoba mengupas apakah hal ini terjadi di dunia pendidikan atau tidak.  

3.  Dasar PendidikanBagaimana kita mendidik anak agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, tentunya kita harus memiliki landasan filosofis dalam cara mendidik anak. Ada sebuah puisi yang sangat sederhana namun begitu besar maknanya dari Dorothy yang bisa kita jadikan sebagai landasan cara mendidik seorang anak.  

Children Learn What They Live 

If a child lives with criticism,     He learns to condemn.If a child live with hostility,     He learns to fight.If a child live with ridicule,     He learns to be shy.If a child live with shame,     He learns to feel gulity.If a child live with tolerance,     He learns to be patient.If a child live with encouragement,     He learns to be confident.If a child live with praise,     He learns to appreciate.If a child live with fairness,     He learns justice.If a child live with security,     He learns to have faith.If a child live with approval,     He learns to like himself.If a child live with acceptance and friendship,     He learns to find love in the world. 

Anak belajar dari kehidupannya kata Dorothy, karenanya anak harus dididik sebaik mungkin. Pola asuh dan didik yang salah pada anak akan menjadi fatal, baik bagi kognisi anak maupun mentalnya, dan itu mungkin akan menjadi ladang dosa bagi kita. “Anak yang salah didik adalah anak yang hilang”, begitulah kata John K. Kennedy. Terlebih lagi anak yang didik dengan kekerasan, entah akan menjadi seperti apa dia kelak. Setiap manusia memang bisa untuk dididik, namun tentunya tidak semua pola didikan untuk anak sama, kita harus memiliki pola yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Pada dasarnya setiap guru atau mungkin setiap orang mengetahui cara yang baik dalam mendidik anak. Setiap buku menyajikan berbagai teori dan praktik mengenai pendidikan, pola mengajar, cara mendidik yang begitu lengkap. Namun, sangat sulit bagi kita untuk melakukannya. Betul apa yang dikatakan oleh Wolfgang van Goethe: “Semua pemikiran yang bijaksana sebenarnya telah terpikirkan ribuah kali, namun untuk menjadikannya sepenuhnya sebagai milik kita, kita harus memikirkannya secara tulus berulang kali, sampai hal itu mengakar di dalam pengalaman pribadi kita”.

 

4.  Gejala Fasis Dalam Dunia Pendidikan

4.1  Penanaman Idiologi Yang Dipaksakan

Penanaman idiologi yang dipaksakan adalah contoh pertama dari gejala fascis di dunia pendidikan. Idiologi secara sederhana adalah suatu gagasan atau ide yang dipegang teguh dalam menjalankan kehidupan. Idiologi memang sangat diperlukan dan penting bagi setiap orang, bahkan orang yang tidak memiliki idiologi mungkin dianggap tidak memiliki pegangan hidup. Dalam persoalan idiologi, guru memang memiliki tugas untuk menanamkan nilai kepada seorang murid untuk mereka jadikan pegangan. Namun, seorang guru pun tidak boleh lupa bahwa murid mempunyai hak untuk memilih satu idiologi yang mereka yakini.

Terkadang kita sering mengalami di dunia pendidikan, seorang guru menjejali sebuah pemahaman sesuai dengan yang diinginkan oleh guru. Pemahaman itu kemudian ia bangga-banggakan di hadapan murid, bahkan sambil menjelek-jelekan pemahaman yang lain. Terlebih lagi, idiologi yang diajarkan oleh gurunya itu sesuai dengan idiologi yang ia pegang. Misalnya, seorang guru mengatakan bahwa idiologi Marxis lebih baik dari idiologi lain, karena kebetulan si guru berhaluan Marxis. Atau karena gurunya Islam, ia mengatakan kepada muridnya Islam-lah yang terbaik.

Memberikan penjelasan atau materi tentang satu idiologi memang tidak terlihat salah. Namun, ketika guru hanya memberikan penjelasan satu idiologi kepada muridnya, ini sama juga dengan pemaksaan. Walaupun guru tidak menyuruh muridnya untuk memilih idiologi yang ia ajarkan, tetapi kalau satu idiologi saja yang diajarkan dan itu terus diulang-ulang, itu sama saja menyuruh murid untuk memilih idiologi yang diinginkan oleh si guru. Bahkan mungkin ada seorang guru yang menjejali muridnya dengan satu idiologi yang ia inginkan – itu lebih parah. Hal ini tidak ada bedanya dengan zaman orde baru. Kebiasaan orde baru adalah selalu memaksakan singularitas, dan yang berbeda dianggap subpersif.

Idiologi berkaitan dengan kepercayaan. Dalam kitab Bhagavada Gita disebutkan bahwa manusia dibentuk dari kepercayaan, apa yang ia percaya, itulah dia. Bagaimana kepercayaan seseorang itu terbentuk, tentu mengalami proses yang panjang. Namun, kepercayaan itu tumbuh atas kesadaran atau dijejali?. Kita memang sulit untuk milihat apakah seorang guru menanamkan idiologi secara dipaksakan atau tidak. Mengenai hal ini, ada satu hal yang bisa kita perhatikan terutama berkaitan dengan wibawa seorang guru.

Setiap murid diwajibkan untuk menghormati guru. Dari penghormatan inilah muncul kepatuhan seorang murid kepada gurunya, dan dari kepatuhan ini guru biasanya dianggap berwibawa. Bagi seorang murid yang kurang pemahaman, setiap ucapan guru biasanya selalu dianggap benar, guru dianggap sumber kebenaran. Dengan wibawanya, guru dengan mudah menanamkan pandangan, pendapat, atau idiologi yang ia inginkan kepada muridnya. Dari sinilah murid dibentuk menjadi sosok dengan satu idiologi sesuai dengan yang diinginkan gurunya, bukan yang diinginkan muridnya sendiri. Seorang murid yang ditanamkan idiologi yang dipaksakan sebetulnya mengalami keterasingan pribadi, ia tidak akan mengenal potensinya – sebagai manusia yang bebas – sendiri.

Dari penanaman idiologi yang dipaksakan ini, akan berdampak pada pribadi si murid khususnya di masa yang akan datang. Pertama, anak akan menganggap idiologi yang ia pegang yang paling benar, dengan mengganggap idiologi lain salah. Ini sebetulnya gejal penjiplakan, sikap murid tidak jauh berbeda dengan sikap gurunya. Dalam psikologi, Karl Gustav Jung mengatakan hal ini sebagi ketidaksadaran kolektif. Kedua, anak (murid) cenderung sulit untuk menerima pendapat yang berbeda dengan dirinya. Ketiga, anak sulit untuk menentukan satu sikap ketika dihadapkan pada suatu pilihan.

Ketiga dampak tersebut muncul karena pada saat proses belajar – termasuk belajar tentang idiologi – guru tidak memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih. Humanisme eksistensialis berpendapat bahwa kesempurnaan manusia terletak pada ikhtiar (choice) dan liberalitas yang ada pada dirinya. Mereka beranggapan bahwa “Semakin luas wilayah kebebasan pada diri manusia maka semakin sempurnalah ia”, dalam hal ini termasuk kebebasan seseorang untuk memilih. Seorang guru harus memberikan kebebasan kepada murid untuk memilih satu idiologi yang mereka yakini. Guru memberikan beberapa penjelasan mengenai idiologi, lalu murid harus diberi kesempatan untuk menganalisis, membandingkan, dan pada akhirnya menentukan idiologi mana yang mau ia pilih. Analoginya, apabila ada seorang ibu yang akan memberikan pakaian kepada anaknya, tentu si anak itu yang lebih tahu mana pakaian yang lebih cocok buat dia. Si ibu hanya bisa memberikan saran saja atau mengingatkan si anak kalau pakaian yang ia pakai itu tidak benar. Begitu pula tentang idiologi, guru hanya memberikan saran idiologi mana yang baik untuk muridnya, tetapi yang lebih tahu idiologi mana yang cocok untuk si murid, tentu si murid itu sendiri.

            Adapun hal yang dapat dilakukan supaya tidak terjadi pemaksaan terhadap satu idiologi dalam pendidikan antara lain:

  1. Setiap guru harus di beri wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan ini meliputi berbagai hal yang membentuk Negara
    Indonesia seperti agama, budaya, sosial-politik, maupun ekonomi. Selain itu asas pluralitas harus ditanamkan. Persoalan-persoalan bangsa yang terjadi hari ini banyak yang diakibatkan karena setiap orang tidak menghargai pluralitas. Dunia pendidikan haruslah menjadi tempat sebagai penanaman asas pluralitas dalam membangun kesatuan bangsa.
  2. Setiap guru maupun murid harus memiliki pemahaman yang memadai mengenai hak dan kewajiaban. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan setiap orang tumbuh rasa saling menghargai. Begitu pula penanaman nilai kebebasan jangan kita lupakan. Walaupun kita tidak perlu menganut kebeasan seperti paham humanisme eksistensialis, yang menganggap kebebasan sebagai sesuatu yang mutlak. Kebebasan yang kita perlukan ialah kebebasan yang sejalan dengan nilai-nilai yang kita pegang.

 

4.2  Hukuman Yang Tidak Wajar

Hukuman yang diberikan oleh guru kepada murid pada dasarnya untuk memberikan pelajaran. Biasanya hukuman dilakukan untuk memberikan efek jera. Misalnya seorang murid tidak mengerjakan tugas yang diberikan gurunya, melanggar peraturan sekolah, atau hal-hal lain yang membuat murid harus diberi hukuman. Hukuman di dalam dunia pendidikan mengang tidak jauh berbeda landasannya dengan hukum pada umumnya. Setiap manusia diberikan hak, namun di samping itu mereka juga diberi kewajiban. Jika kewajiban yang oleh manusia tidak dijalankan, maka hukum bertindak.

Kita harus ingat manusia berbeda dengan binatang. Kita mungkin pernah mendengar sebuah pribahasa, “seekor musang tidak akan pernah jatuh pada lubang yang sama”. Musang tidak akan jatuh pada lubang yang sama karena memiliki insting, dan insting itulah yang menimbulkan efek jera. Namun apakah musang itu tahu kalau lubang itu berbahaya bagi dia?. Seorang murid dididik dengan hukuman bukan hanya untuk menimbulkan efek jera, lebih dari itu, hukuman yang diberikan harus bisa menimbulkan kesadaran pada diri si murid. Hingga kini, mungkin hukuman konvensional yang diberikan oleh guru masih banyak dilakukan. Misalnya, ketika murid melakukan kesalahan ia harus berdiri di tengah lapang, seperti prajurit yang dihukum komandannya, disuruh lari beberapa keliling di lapangan sekolah, atau biasanya disuruh membersihkan wc, yang pada dasarnya bukan tugas murid. Rasanya militerisme sudah masuk di dunia sekolah umum, sebab hukuman ini lazimnya terjadi di dunia militer. Bahkan di negeri entah berantah ada seorang murid karena satu kesalahan oleh gurunya kemudian digunduli rambutnya, tidak jauh berbeda seperti maling ayam yang ketangkap basah.

Kita coba mengingat kembali apa yang dikatakan Dorothy, “If a child live with fairness, He learns justice”. Ketika seorang guru menerapkan hukuman dengan metode kekerasan, saat itu juga si guru sedang mengajarkan kepada murid ketidak adilan. Kenapa demikian, karena hukuman kekerasan bukanlah sebaik-baiknya perlakuan. Kita ambil contoh lagi, misalnya murid yang dihukum oleh gurunya berdiri di tengah lapangan sekolah, ditotontonlah murid yang dihukum itu oleh ratusan murid yang lain. Cemoohan, tawaan keluar dari murid yang menonton pertunjukan hukuman ini. Awalnya mungkin si guru beranggapan dengan cara tersebut murid yang dihukum tidak akan mengulangi kesalahannya lagi, dan murid yang lain tidak mencontoh. Tetapi kita juga coba bertanya, apakah hukuman itu dapat membuat murid menjadi sadar atas kesalahannya?, bagaimana dengan efek bagi psikologi murid tersebut?. Jelaslah hukuman ini kurang pas untuk seorang murid yang sedang belajar, khususnya belajar hidup.


Ada lagi yang lain, seorang murid karena satu kesalahan lalu oleh gurunya dicaci maki “bodoh kamu…”, “dasar pemalas…”, “mau jadi apa kamu….”, “sialan kamu…”, dan mungkin masih banyak kata-kata keras dari guru ketika memarahi muridnya. Bahkan di kalangan siswa, BP yang dulunya sebagai badan penyuluhan siswa, seringkali dianggap sebagai badan penyiksaan siswa. Karena di ruang BP-lah biasanya guru memarahi atau menghukum murid.
Bentuk fascis lain yang berkaitan dengan hukuman adalah sikap rasis seorang guru. Ada beberapa guru yang seringkali bertindak berat sebelah atau tidak adil dalam memperlakukan muridnya. Misalanya, karena murid dekat dengan guru, ketika ia melakukan kesalahan, maka si guru tidak menghukumnya. Karena orang tuanya murid dekat dengan guru, lalu guru tidak menghukum kesalahan murid. Atau karena murid itu anaknya kepala sekolah atau anak pejabat, guru takut menghukum murid. Gejala kekerasan/fascis di dunia pendidikan yang berkaitan dengan hukuman tentu akan menimbulkan efek negatif bagi murid. Minimal ada tiga hal yang dapat saya kemukakan. Pertama, rasa dendam pada diri murid terhadap guru. Hal ini muncul karena murid tidak diberi sebaik-baiknya perlakukan oleh gurunya, dan biasanya murid menganggap dirinya tidak diperlakukan adil. Guru seharusnya menjadi pembimbing ketika murid melakukan kesalahan, guru menjadi pengingat ketika murid melakukan kekhilafan, bukan malah menjadi algojo ketika murid melakukan kesalahan dengan hukuman-hukumannya. Rasa dendam ini juga muncul karena sikap rasis seorang guru, lalu dengan rasa dendam tersebut muncullah kebencian serta persepsi negatif dari murid tentang gurunya. Jika murid sudah benci pada gurunya, maka apapun yang baik tentang gurunya ia akan menolak, sebab ia pernah memiliki pengalaman buruk dengan gurunya. Kedua, ketidak sadaran akan sebuah nilai yang harus dipegang. Pada mulanya dalam pendidikan, dalam diri guru harus ada nilai-nilai yang bisa ditanamkan dalam diri murid. Murid dibimbing oleh guru untuk mematuhi nilai-nilai melalui guru tersebut. Namun karena guru menerapkan hukuman yang tidak wajar pada murid, hal ini bisa menjadi sesuatu yang kontraproduktif bagi tujuan pendidikan. Contoh, seorang murid yang tidak mengerjakan tugas lalu ia dihukum berdiri di depan kelas dihadapan murid yang lain, atau dengan hukuman tidak boleh masuk kelas. Suatu hari ketika guru tersebut akan memberikan tugas lagi, maka akan timbul kecemasan pada diri murid. Murid menjadi takut ketika ia tidak mengerjakan tugas, bernasib seperti temannya yang terdahulu. Pada akhirnya murid mengerjakan tugas bukan karena ia sadar bahwa hal itu merupakan kewajiban sebagaimana tertuang dalam nilai-nilai pendidikan, namun karena takut akan hukuman gurunya.

Ketiga, pengaruh psikologis terutama terbentuknya konsep diri negatif pada murid. Menurut William D. Brooks konsep diri ialah “those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with other”. Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri juga biasanya dipengaruhi oleh orang yang berpengaruh, salah satunya guru. Sikap-sikap guru banyak sekali yang dapat mempengaruhi konsep diri seorang murid, misalnya, cacian, hinaan, pujian, dukukang, dan lain-lain. Sedangkan kecenderungan bertingkah laku sesuai dengan konsep diri disebut nubuat yang dipenuhi sendiri.

Misalnya karena kesal, guru memaki-maki murid dengan mengatakan “kamu bodoh…”. Karena guru tersebut sering mengatakan hal itu, maka timbul pertanyaan dalam diri murid, “apakah aku (murid) ini benar-benar bodoh?”. Menurut psikologi, ketika Anda berpikir Anda orang bodoh, Anda akan benar-benar menjadi orang bodoh. Jalaluddin Rahkmat, memeberikan beberapa ciri tentang konsep diri negatif, dua diantaranya menurut saya sering terjadi akibat hukuman dan sikap seorang guru.

  1. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia bereaksi kepada orang lain sebagi musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.
  2. Bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

 

Untuk menghindari hukuman yang tidak wajar dalam bentuk kekerasan/fascis ini, ada beberapa hal yang harus pihak sekolah lakukan, diantaranya:

  1. Membuat sebuah konsep tentang hukuman yang layak bagi murid. Jika pendidikan diarahkan pada peningkatan kognitif, afektif, dan psikomotorik murid, maka hukuman pun harus mengarah pada peningkatan tiga aspek tersebut. Jangan sampai bertolak belakang dengan tujuan pendidikan. Walaupun aturan ini tidak tertulis, minimal ada konsep bersama yang disepakati.
  2. Lebih mengoptimalkan kembali peranan guru. Dalam artian ketika seorang guru memberikan hukuman kepada murid, tugas guru tidak sampai di sana. Ia harus dapat menjelaskan serta memberikan pemahaman mengenai fungsi hukuman tersebut, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran pada diri murid akan nilai-nilai yang harus mereka pegang.
  3. Sesekali waktu guru harus diberi bimbingan konseling psikologis. Sebab tidak jarang seorang guru memberikan hukuman kepada murid yang tidak wajar karena ia sedang dalam kondisi yang labil. Misalnya, kesalahan murid tidak seberapa, tetapi karena guru itu sedang memiliki masalah dengan ekonominya, dengan istrinya, atau dengan mertuanya ia menghukum murid dengan semena-mena. Murid dijadikan sasaran kekesalan atas kondisi yang sedang dialami guru.

 

4.3  Kritik Yang Ditentang

Menurut Jaques Barzun pendidikan berhasil kalau orang senang mempergunakan otaknya. Tidak perlu repot-repot seperti Isac Nowton yang dengan otaknya menciptakan teori gravitasi, atau seperti seperti Aristoteles yang menciptakan beratus atau mungkin beribu-ribu teori. Karena mungkin otak kita, kemampuan, ketekunan, bahkan keinginan kita tidak setinggi mereka. Tetapi minimal, pernahkah kita berfikir dengan otak kita tentang segala hal yang ada di sekeliling kita, yang kemudian menumbuhkan kita untuk bersikap kritis dan pada akhirnya dapat mendorong kita untuk bergerak.  

Sikap kritis pada diri siswa memang satu hal yang sulit kita temui. Jika ada, mungkin satu dari sepuluh murid, atau bahkan satu dari seratus murid. Ini memang suatu hal yang sangat wajar. Di usia yang sangat muda, biasanya orang cenderung senang dengan hal-hal yang sedang tren, melakukan hal-hal yang menyenangkan dirinya, hura-hura, bahkan sebagian ada yang terjerumus pada kesesatan. Makanya, jika ada murid yang kritis, biasanya dianggap murid yang spesial.

Sikap kritis seorang murid biasanya muncul ketika agumen guru berbeda dengan dirinya, kebijakan sekolah yang tidak sesuai dengan keinginan murid, atau keadaan bobrok di sekolahnya. Namun sayangnya, murid-murid yang kritis seperti ini seringkali dijadikan musuh oleh guru dan sekolahnya sendiri. Seringkali kritikan mereka diabaikan, bahkan mungkin mereka dibungkam. Inilah gejala fascis yang biasanya sering terjadi di dunia pendidikan.

Di dunia pendidikan, terkadang guru berubah sosok menjadi diktator yang absolut. Misalnya, murid harus membeli buku yang dijual oleh gurunya, jika tidak biasanya murid seringkali dimarjinalkan. Atau atauran yang melarang murid masuk kelas jika terlambat beberapa menit, sementara gurunya terlambat masuk tidak ada aturan yang menindak.

Bahkan saat ini masih banyak guru yang anti kritik. Mereka merasa diri pintar dan lebih tahu segalanya dari murid. Guru-guru seperti ini biasanya dari golongan tua, mereka kolot, konservatif, dan biasanya tidak mengerti perkembangan yang sedang terjadi. Di tangan guru seperti inilah biasanya murid-murid yang kritis bernasib buruk. Misalnya, seorang murid yang harusnya mendapat nilai tinggi, karena ia sering mendebat dan mengkritik gurunya di dalam kelas, nilai dia menjadi rendah. Atau karena murid mengkritik kebijakan sekolah, ia kemudian dikeluarkan. Hal ini sangatlah bertentangan dengan tujuan pendidikan. Di setiap kurikulum, menumbuhkan sikap kritis pada diri murid selalu dicantumkan, namun ketika ada murid yang kritis mereka malah ditentang. Sikap-sikap guru yang anti kritik atau pembungkaman terhadap kritik sangat berdampak bagi murid. Pertama, kemalasan. Kemalasan dalam artian tidak mau kritis. Ini biasanya terjadi pada murid yang lain. Karena mereka melihat temannya yang kritis bernasib buruk, maka ia takut sehingga sikap kritis yang ada pada dirinya dipendam. Kedua, membunuh potensi anak. Guru yang tidak mau dikritik, atau yang bersikap tidak adil terhadap yang kritis sebetulnya sudah membunuh potensi anak. Potensi itu misalnya keberanian, keingintahuan, ataupun kesadaran. Ketiga, sikap skeptis. Murid sudah tidak percaya lagi bahwa sekolah merupakan tempat yang baik untuk belajar, sehingga muncullah pandangan yang lebih luas bahwa sekolah tidak menjamin anak menjadi pintar. Bagi murid yang mengalami gejala ketiga ini hanya ada dua jalan, pertama, keluar dari sekolah itu, atau yang kedua, melawan.  

5.  Demokrasi Pendidikan

Memperoleh pendidikan yang baik merupakan hak setiap orang. Di setiap Negara, terlebih lagi di Indonesia sebagai Negara demokrasi, pendidikan perlu diperhatikan dengan seksama. Hak mendapat pendidikan merupakan turunan dari hak-hak asasi yang lain. Oleh sebab itulah, pemerintah memiliki kewajiban penuh atas nasib pendidikan warganya.

Di Negara lain, Kuba misalanya, pendidikan dijamin penuh oleh Negara. Dari mulai tingkat pendidikan yang paling rendah hingga perguruan tinggi pemerintah menyediakan dana penuh, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan uang biaya pendidikan. Bergitu pula di Jerman, biaya pendidikan dasar hingga pendidikan atas  semua ditanggung oleh pemerintah. Bahkan pemerintah Jerman memberi buku pelajaran secara cuma-cuma kepada siswanya. Di Indonesia tidak demikian, negeri yang pada dasarnya kaya malahan miskin dana untuk pendidikan. Coba kita perhatikan, anggaran pendidikan hanya 20%, itupun baru akan dilakukan pada tahun 2009. dengan alasan hutang-hutang Negara belum terlunasi.

Di Indonesia hanya “ras-ras Aria” (orang-orang kaya) saja yang dapat pendidikan layak. Sementara orang-orang ekonomi rendah yang pada umumnya mayoritas tidak mendapat perhatian yang lebih. Rakyat Indonesia belum mendapatkan hak pendidikan sebagai manifestasi dari demokrasi pendidikan.

Masih banyak tindakan-tindakan pemerintah yang tidak mendukung demokrasi pendidikan. Misalnya, setiap tahun biaya pendidikan semakin meningkat. Di tengah kekurangan yang semakin membelit masyarakat, seharusnya pemerintah perfikir bagaimana supaya pendidikan tidak ikut melilit penderitaan rakyat. Atau keadaan-keadaan sekolah terutama di daerah terpencil yang tidak terpelihara. Bangunan-bangunan yang rusak, fasilitas yang tidak memadai, masih lambat diperhatikan. Begitupula tenaga kerja profesional di dunia pendidikan masih sangat kurang. Hal ini mungkin disebabkan karena pemerinah kurang memperhatikan kehidupan guru, sehingga orang menganggap profesi guru tidak menjamin hidup.

Adalagi yang lebih parah. Ketika pendidikan sedang terpuruk, dengan dana hanya 20%, presiden kemudian mengeluarkan PP no 37 tentang keuangan dan protokoler anggota dewan. Peraturan ini merupakan penghinaan terhadap dunia pendidikan. Pemerintah terus mengagung-agungkan anggota dewan yang tidak ada kerjanya, sementara pendidikan dibiarkan. Coba kita bayangkan, andaikan gaji dewan dipotong beberapa persen lalu kita subsidi untuk dana pendidikan, sudah berapa bangunan sekolah yang bisa diperbaiki, sudah berapa rakyat yang bisa sekolah, namun sayangnya pemerintah kita tidak berfikir ke
sana.

Cobalah anda main ke gedung Senayan, lalu anda mampir ke tempat parkir. Anda pasti akan keheranan ini tempat parkir atau showroom mobil mewah. Pemerintahan kita adalah pemerintah yang dzolim. Berapa banyak hak rakyat untuk sekolah diambil untuk kepentingan segelintir orang. Mereka tidak pernah memberikan contoh yang baik bagi pendidikan masyarakat. Apakah yang ini tidak sama dengan fascis. 

 

6.  Demokrasi di Sekolah

Menerapkan nilai-nilai demokrasi di sekolah sangatlah penting bagi pendidikan siswa. Sekolah harus memiliki wadah tempat menyalurkannya aspirasi siswa. Dengan penerapan demokrasi di sekolah, siswa belajar untuk memahami hak dan kewajiban sebagi bagian dari lingkungan sosial.

Dengan adanya wadah aspirasi siswa, diharapkan siswa dapat berberan serta aktif dalam membangun dinamika sekolah, yang pada akhirnya akan mendukung terciptanya pendidikan yang harmonis. Di sekolah pada umumnya, masih ada jarak yang cukup renggang antara murid dengan guru, sehingga tidak ada kerjasama yang berkesinambungan dalam menciptakan dinamikas sekolah antara guru dengan murid. Lembaga seperti halnya OSIS seharusnya dapat mewadahi persoalan ini. OSIS tidak hanya mengurusi kegiatan yang sifatnya hiburan, namun lebih dari itu, OSIS juga harus mampu bertindak sebagai wadah aspirasi siswa.

Gejala-gejala fascisme di dunia pendidikan, khususnya di sekolah dengan adanya lembaga aspirasi siswa ini pula dapat diatasi. Murid bisa dengan leluasa melaporkan apabila ada guru yang bertindak sewenang-wenang, ada persoalan antara guru dengan murid, atau mungkin persoalan murid dengan murid.

Demokrasi di sekolah merupakan satu diantara sebagian indikator keberhasilan pendidikan. Dengan terciptanya lingkungan yang demokratis, siswa belajar menjadi lebih kritis, appreciate terhadap yang terjadi di sekolahnya, dan pada akhirnya mereka pun dapat berperan serta aktif dalam wadah demokrasi yang lebih besar.

 

7.  Kesimpulan

Untuk meningkatkan mutu serta kualitas sumber daya manusia, pendidikan diharapkan menjadi tempat yang bisa mengatasinya. Kita harus memiliki pola pendidikan (pola belajar) yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Gejala fascisme di dunia pendidikan harus dijauhkan. Kekerasan bukanlah alat yang cocok diterapkan bagi pendidikan, khususnya pendidikan anak. “Kekerasan hanyalah senjata orang yang jiwanya lemah”, (Mohandas K. Gandhi).

Pemaksaan idiologi, hukuman yang tidak wajar, serta kritik yang ditentang adalah contoh dari ketidak berhasilan pendidikan. Mungkin masih banyak gejala fascis yang lain, yang terjadi di dunia pendidikan. Bukan hanya di sekolah, namun di dunia pendidikan sebagai bagian dari tatanan sosial. Setiap sekolah maupun lembaga pendidikan yang lain harus memiliki badan pengawasan guna menghindari gejala fascis yang tumbuh di dunia pendidikan. Demokrasi pendidikan dan demokrasi di sekolah bisa dijadikan alat sebagai pengawas pelaksanaan proses pendidikan.

Selain itu, pemerintah harus berupaya keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan, karena itu memang kewajiban. Pendidikan yang merupakan hak asasi setiap warga tidak boleh diterlantarkan seperti yang terjadi sekarang. Selain itu, mutu pengajar, fasilitas, serta infrastruktru lainnya perlu diperhatikan. Demi terciptanya perubahan sebagai bagian dari proses kehidupan.  

 Oleh : Yadi Supriadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: