Ilmu Pendidikan

Istilah PendidikanPendidikan / Paedagogiek berasal dari bahasa Yunani Pedagogues, dan Latin Paedagogus. Artinya pemuda yang bertugas mengantar anak ke sekolah, serta menjaga anak tersebut agar ia bertingkah laku / berprilaku susila dan disiplin. Sekolah/scole secara bahasa berarti waktu luang.  

Unsur-unsur Ilmu Pendidikan1.      Ilmu Pengetahuan yang berdiri sendiri2.      Mempunyai obyek sendiri. Obyek Formal; yaitu gejala insani yang disebut pendidikan adalah proses atau situasi pendidikan yang menunjukan keadaan nyata yang dilakukan atau dialami manusia, dan yang harus difahami oleh manusia. Sedangkan Obyek Materil ilmu pendidikan adalah manusia itu sendiri.3.      Pemikiran ilmiah tentang obyek itu sendiri. Yang disebut pendidiakan adalah proses atau situasi pendidikan yang tersusun secara kritis, metodis, dan sistematis.4.      Ilmu terapan (praktis), serta mempunyai dua segi; teoritis dan praktis5.      Bersifat Normatif. Pemahaman mengenai unsur-unsur dasar ilmu pendidikan menjadi instrumen untuk dapat memahami sifat-sifat ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan, antara lain : Empiris, Rohani, Teoritis-Sistematis, Deskriptif, Normatif- Preskriptif, Historis, dan Praktis.  

Batasan Ilmu Pendidikan1.      Suatu ilmu yang bukan saja menelaah obyeknya untuk mengetahui betapa keadaan atau hakikat obyek itu, melainkan mempelajari pula betapa kehendaknya bertindak.2.      Teori / perenungan tentang pendidikan lebih luas. Ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan.3.      Ilmu pendidikan mempelajari suasana dan proses pendidikan.

4.      Pemikiran ilmiah realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik). Sementara itu pemikiran ilmiah bersifat :

a.       Kritis : semua pernyataan, semua affirmasi harus mempunyai dasar yang cukup kuat. Sikap kritis antara lain ingin mengetahui dengan sunguh-sungguh, serta ingin mengalami sesuatu dengan sebetul-betulnya dan dasar-dasarnya.

b.      Metodis : dalam proses pendidikan setiap orang menggunakan cara tertentu.c.       Sistematis : proses pemikiran ilmiah dijiwai oleh suatu idea yang menyeluruh (universal) dan menyatukan, sehingga pemikiran-pemikirannya dan pendapat-pandapatnya tidak tanpa bimbingan, melainkan merupakan kesatuan.  

 

Posisi Manusia dalam Pendidikan

  1. Bersifat antropologis : manusia memiliki potensi
  2. Pendidikan bersifat normatif : perlakuan
  3. Pendidikan bersifat praktis : dipraktekkan sebagai aplikasi dari teori

 

Sifat pendidikan yang antropologis, normatif, dan praktis artinya / tidak lain berpangkal dari dasar manusia itu sendiri. Dalam pendidikan manusia bertindak sebagai obyek. Adapun cara yang dilakukan dalam pendidikan supaya potensi anak berkembang diantaranya :

  1. segi antropologi : kita harus meyakini bahwa setiap anak mempunyai potensi masing-masing. Dengan potensi yang ada, kita bisa mengembangkan bakat dan kemampuan anak dalam berbagai bidang.
  2. segi normatif : setiap anak tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Kita harus mengetahui cara mendidik bagaimana yang paling cocok untuk seorang anak yang kita hadapi. Terlebih lagi, memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh sesuai dengan potensinya itu lebih baik.
  3. segi praktis : guru harus bisa mengarahkan siswa sesuai dengan potensi bukan dengan intervensi.

 

Asumsi dalam pendidikan

Setiap apa yang ada di dunia, baik itu ilmu pengetahuan, teori, maupun praktis bersumber dari sebuah asumsi dasar. Dalam pendidikan, kita memiliki asumsi bahwa manusia dpat dididik. Asumsi itu adalah manusia disebut sebagai homo educandum; yang artinya, manusia perlu di didik agar potensi yang ada dalam dirinya dapat berkembang. Dan yang kedua, manusia dianggap sebagai homo educabile; artinya setiap manusia dapat mendidik manusia yang lain.

 

 

Sikap Seorang Guru

  1. Guru harus bersikap renggang dalam artian dapat menjaga jarak dengn siswanya. Dengan hal ini, guru mencoba agar siswa bisa mandiri dan guru tidak bersifat subyektif terhadap muridnya. Guru harus dapat mencetak muridnya sebagai manusia dengan potensi yang murid miliki sendiri, dan guru juga harus dapat membuat seorang siswa didiknya menjadi mandiri, tidak tergantung kepada guru.
  2. Guru harus mempunyai daya antisifatif, yaitu guru harus mempunyai pengetahuan, kemampuan dan kemauan untuk menghadirkan masa yang akan datang pada saat guru sedang melakukan proses pembelajaran. Kegagalan antisifatif seorang guru dalam menghadirkan masa yang akan datang disebut dehumanisasi.
  3. Guru harus bersikap progresif, mengikuti perkembangan zaman

Guru harus bersifat present. Artinya memiliki kemampuan dalam menghadirkan sesuatu saat mendidik seorang siswa. 

Oleh : Yadi Supriadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: