Mencermati Perilaku Konsumtif Siswa

Oleh AJENG KANIA

Perilaku konsumtif dewasa ini menjadi bagian kehidupan masyarakat. Pusat perbelanjaan yang tumbuh pesat menawarkan berbagai fasilitas lengkap, nyaman, dan serba praktis memanjakan masyarakat, termasuk para pelajar.

Menjumpai kalangan siswa di mal-mal sekarang ini bukanlah masalah sulit. Mal kini bukan sekadar tujuan orang berbelanja, namun sarat dengan arena fasilitas hiburan, bahkan menjadi sarana alternatif pengisi waktu luang di kalangan siswa untuk sekadar “cuci mata”, nongkrong dan ngerumpi. Suguhan yang ditawarkan di mal berupa mode fashion, aneka kuliner, aksesori, dan berbagai hiburan cukup menggoda hati setiap pengunjung.

Situasi dan kondisi tersebut membawa pengaruh konsumtif bagi siswa selaku pengunjung. Siswa cenderung digiring menghabiskan uang sakunya untuk melampiaskan keinginannya. Rasa gengsi dan demi penampilan di hadapan rekan-rekannya, membuat mereka terbiasa saling mentraktir, mengadakan pesta ulang tahun atau hura-hura di mal atau kafe. Agar tampak lebih gaul, gaya hidup siswa pun banyak mengadopsi model-model iklan atau pemain sinetron yang sedang tren, seperti model fashion, aksesori, telefon seluler, tato, tindik, dsb.

Perilaku konsumtif seperti itu sangat rentan bagi siswa terlibat hal-hal negatif. Secara logika, perilaku konsumtif tanpa didukung dana memadai (baca: pendapatan orang tua) membuat siswa berusaha berbagai cara untuk memenuhi hasratnya. Siswa tak segan masuk terlibat perbuatan kriminal seperti memalak, menipu dan mencuri. Sementara beberapa remaja putri, rela menyerahkan diri berbuat asusila demi materi untuk keperluan konsumtif dirinya. Gaya hidup seperti itu cukup dekat mengantarkan siswa kepada geng pecandu narkoba.

Bagi orang tua, perilaku konsumtif anaknya harus dibayar mahal. Orang tua tidak hanya berhadapan dengan keperluan sekolah, namun harus mengeluarkan biaya “ekstra” lainnya. Celakanya, orang tua yang secara ekonomi pas-pasan, dipaksa mementingkan pulsa handphone ketimbang membeli beras atau minyak tanah demi harga “pergaulan” sang anak.

Esais, Jakob Sumardjo, mengatakan gaya berpikir dan perilaku orang konsumtif ibarat benalu, suka mengisap daya hidup orang lain. Mereka cenderung bersifat boros, tidak bisa berhemat, dan kerjanya suka menghabiskan melulu. Hal tersebut bertolak belakang dengan karakter manusia produktif yang suka berhemat, pekerja keras, dan menghasilkan sesuatu.

Beberapa alternatif penulis coba ajukan untuk mereduksi perilaku konsumtif di kalangan siswa. Pertama, membiasakan budaya menabung (saving). Sejak usia TK/SD siswa dibiasakan rajin menabung dari sisa uang jajannya. Ingat, dalam hal ini bukan orang tua yang sengaja menabung atas nama anaknya. Tujuannya agar siswa dapat menghargai betapa susahnya berjuang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sehingga ia berpikir ulang ketika akan menggunakan uang tersebut.

Kedua, menanamkan kemandirian sebagai upaya membentuk perilaku produktif. Hal tersebut bisa ditempuh dengan mengembangkan potensi aktual diri, minat, bakat, dan kreativitas. Keterampilan (skills) ini dapat menggugah siswa berpikir konstruktif dan produktif minimal berguna bgi dirinya sendiri.

Ketiga, mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, seperti mengikut kegiatan ekstrakurikuler pramuka, olah raga, atau seni. Biasakan anak aktif membaca, dan kursus, sehingga siswa tak banyak bergaul dengan hal-hal negatif. Keempat, memberi pemahaman agar siswa bersifat selektif, sehingga bisa membedakan mana kebutuhan urgen atau biasa, barang bermanfaat atau mubazir, memilih teman baik-jelek, dsb. Kelima, adanya tata tertib yang tegas dan kontrol dari guru dan orang tua, sehingga siswa tidak sesuka hati dalam bertindak (tetap dalam norma).

Kerja keras orang produktif akan mengandalkan potensi diri, tahan uji, ulet, mampu berkreasi dan inovasi, serta mampu mencipta sesuatu untuk orang lain sehingga dapat tercipta generasi tangguh dan mandiri. Sebaliknya siswa berperilaku konsumtif akan menghasilkan generasi yang mempunyai tabiat selalu menuntut dan meminta, bermental ketergantungan, royal, malas bekerja, dan mudah sekali tersinggung. ***

Penulis, guru kelas SDN Taruna Karya 04 Kecamatan Cibiru Bandung, pengurus Asosiasi Guru Penulis (AGP) 2007-2008 Jawa Barat.

Sumber: Pikiran Rakyat/ 5 Juni 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: