Kita Kembali ke Calistung

Oleh DRAJATBelum lama ini , Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan menerima penghargaan “Nugra Jasa Dharma Perpustakaan”. Penghargaan tersebut diberikan kepada tokoh-tokoh yang memberi kontribusi dalam mengembangkan perpustakaan dan minat baca. 

DALAM sambutannya Gubernur mengatakan, “Saya belum puas dengan program pengembangan perpustakaan oleh Pemprov Jabar. Langkah kita adalah mendorong setiap kabupaten agar memberikan komitmen dan apresiasi terhadap perpustakaan. Di setiap kabupaten kami sudah menyediakan mobil perpustakaan keliling.”

Tentu kita sebagai warga Jawa Barat merasa bangga atas penghargaan tersebut. Namun demikian, sejauh ini yang paling sering dikeluhkan masih rendahnya minat baca masyarakat sehingga kehadiran perpustakaan kerap kali mubazir dan tak terdayagunakan secara optimal. Bahkan tak jarang terdengar keluhan, bahwa perpustakaan-perpustakaan yang ada, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta tak terurus dan terawat dengan baik. Sehingga koleksi buku, majalah dan bacaan lainnya menjadi rusak. Bahkan tak laik dibaca.

Ketika minat baca rendah dengan pasti budaya menulis pun demikian. Akibatnya, jangan heran jika mahasiswa kita, bahkan tidak sedikit di atasnya ketika membuat skripsi atau tesis sering jalan pintas. Baik sebagai plagiator atau cukup merogoh kocek membeli di “pabrik” skripsi yang belakangan ini menjamur. Bahkan beberapa hari yang lalu di koran ini, diberitakan 400.000 guru di Indonesia tertahan kepangkatannya di golongan IV-A akibat tidak bisa membuat karya tulis ilmiah (KTI). Sangat tragis bukan?

Berikutnya yang sering dikeluhkan adalah berhitung. Berhitung sering dijadikan momok anak-anak kita. Sulitlah, susah dimengertilah dan sederetan keluh kesah lainnya, ditambah dengan sosok guru yang tidak bersahabat. Lengkaplah sudah, akhirnya jangan disalahkan jika anak-anak kita “trauma” berhadapan dengan pelajaran ini.

Melihat gelagat demikian tentunya kita harus mencarikan jalan keluar, paling tidak memberikan ramuan yang membakar motivasi. Penulis teringat ramuan yang dimaksud adalah membudayakan kembali calistung. Ya, kita kembali ke calistung — baca tulis dan berhitung.

Calistung adalah program unggulan atau modal dasar ketika anak-anak kita berada di sekolah dasar (SD). Di sini peserta didik betul-betul diberikan keterampilan bagaimana menjadi pembaca yang baik. Bagaimana para guru hampir setiap waktu membacakan buku-buku cerita. Bahkan setiap siswa diberikan kesempatan membacakan buku-buku yang mereka pinjam dari perpustakaan. Penulis ingat betul bagaimana cerita Si Malin Kundang, Si Kancil, Sangkuriang, Ande-ande Lumut, Bawang Merah-Bawang Putih, Jaka Tarub dan cerita lainnya.

Tidak ketinggalan, guru kita menceritakan para pahlawan, Pangeran Diponegoro, Mangkubumi, Tuanku Imam Bonjol, Patimura, Ngurah Rai, Pangeran Antasari, Cut Nya Dien, Kartini, Dewi Sartika, Agus Salim, Bung Karno, Bung Hatta dan para pejuang lainnya. Untuk memberikan motivasi, tidak jarang guru-guru memberikan reward atau hadiah, kendati harus mengeluarkan koceknya sendiri.

Sedangkan pelajaran menulis pun demikian. Hampir tiap hari kita belajar menulis halus. Dan ini dinikmati betul oleh peserta didik. Reward-nya bukan hanya nilai, akan tetapi karya kita dipajang di papan pengumuman. Semua orang melihat dan membacanya. Untuk mengasah perbendaharaan kalimat seminggu sekali kita ditugaskan membuat cerita, kendati seringnya cerita liburan di rumah nenek misalnya.

Sementara pelajaran berhitung kita sering diminta untuk membawa potongan lidi sebagai alat berhitung. Kemudian untuk menyegarkan, lidi itu kita bawa ke jalan-jalan di sekitar sekolah. Sambil berjalan kita mencatat berapa pohon yang dilalui. Selanjutnya untuk mendekatkan dengan masyarakat, kita diajak bersilaturahmi sambil mencatat nomor rumah yang kita datangi. Pendek kata, pelajaran berhitung adalah pelajaran yang tidak membosankan. Bahkan kita begitu lantang menjawab tatkala ditanya perkalian atau raraban dengan di luar kepala. Penulis yakin jika kita membiasakan calistung, akan terbayangkan dalam waktu satu tahun beratus halaman tulisan anak-anak kita. Sehingga akan muncul para sastrawan, orator, ilmuwan, negarawan kelas dunia asal Indonesia.***  

Penulis, guru SMPN 1 Arjasari, Banjaran, dan Pustakawan Kubukutubuku.

Sumber: Pikiran Rakyat/13 Juni 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: