Sekolah Internasional Swasta Harus Melapor

BANDUNG, (PR).- Sekolah bertaraf internasional (SBI) yang bernaung di bawah yayasan swasta diimbau segera melaporkan keberadaannya ke Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Selain mendapat pengakuan resmi, sekolah yang telah mendaftar berhak atas dana block grand sebesar Rp 300 juta per tahun.

Demikian diungkapkan Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat, Syarif Hidayat, di sela-sela pendaftaran ulang peserta Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Nasional XV di Aula Dikmenti, Jln. Dr. Radjiman, Bandung, Senin (11/6).

”Pada dasarnya, pengakuan ini penting bukan hanya semata-mata terkait pembagian dana block grand. Lebih dari itu, pengakuan Depdiknas diperlukan karena menyangkut status lulusan yang dicetak SBI bersangkutan,” katanya.

Pasalnya, menurut dia, walaupun telah menyandang status sebagai SBI, jika sekolah tersebut tidak diakui secara resmi oleh Depdiknas, siswanya tidak berhak mengikuti ujian nasional (UN). Itu artinya, siswa bersangkutan tidak bisa melanjutkan ke sekolah umum.

”Di Indonesia UN merupakan syarat mutlak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Tanpa lulus UN, ijazah seorang siswa SBI tidak diakui secara nasional. Kasus seperti itu pernah menimpa salah satu lulusan SBI ternama di Jakarta. Siswa itu tidak bisa melanjutkan ke SMA negeri karena tidak mengikuti UN,” kata dia.

Karena itu, ia mengimbau, walaupun secara resmi telah bekerja sama dengan sejumlah negara tetangga, sebaiknya SBI, khususnya yang bernaung di bawah yayasan swasta, segera melaporkan keberadaannya ke Depdiknas. Bahkan, keberadaanya harus diketahui oleh disdik provinsi dan kabupaten/kota.

”Caranya tidak sulit. Tinggal ajukan proposal ke Depdiknas, melalui disdik provinsi. Persyaratan mendasarnya, sekolah harus memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari laboratorium bahasa, laboratorium IPA, perpustakaan, dan sarana kelengkapan sekolah lainnya, yang memenuhi delapan standar nasional,” kata Syarif.

Selain itu, kata dia selanjutnya, sekolah yang ingin berstandar internasional juga harus memiliki prestasi yang baik. ”Jika dilihat dari UN, minimal sekolah tersebut harus memiliki kelulusan minimal 90%,” tutur Syarif.

Saat ini di Jawa Barat baru ada 13 SBI yang terdaftar secara resmi, baik negeri maupun swasta. Untuk Kota Bandung, menurut Syarif, baru ada dua SBI yang diakui secara resmi oleh Depdiknas, yaitu SMAN 3 Bandung dan SMA Krida Nusantara.

”Tahun ini akan menyusul SMA 5 Bandung yang sekarang masih dalam proses pengajuan,” tuturnya. Selain SMAN 5 Bandung, di Jabar ada 24 SMA lain yang sedang mengikuti proses pendaftaran SBI.

Karena masih berupa rintisan, Syarif mengakui jika di sejumlah sektor pelaksanaan SBI masih belum sempurna. Sebut saja pada proses seleksi penerimaan siswa baru. Bahkan, pada tahun-tahun pertama ini kemungkinan besar sejumlah SBI di Jawa Barat masih belum mengadopsi bahasa Inggris sepenuhnya sebagai pengantar KBM. (A-150)***

Sumber: Pikiran Rakyat/13 Juni 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: